Senin, 18 Februari 2008
FINALLY: bus transJogja diluncurkan!
Di hari perdana uji coba ini, yang rencananya akan berlangsung selama dua minggu, cukup banyak warga jogja yang tertarik untuk mencobanya. Betul, sekadar mencoba. Seperti halnya warga jakarta ketika bus transjakarta diluncurkan pertama kalinya.
Dalam ticketing, pengelola menyediakan dua alternatif, tiket sekali jalan, atau langganan. Tiket sekali jalan hanya bisa digunakan sekali perjalanan. Sedangkan tiket berlangganan, dapat digunakan berkali-kali hingga deposit yang ada di teiket tersebut habis. Tiket berlangganan ini diperuntukan bagi pelajar. Sistemnya seperti deposit untuk pulsa. Misalnya, tiket yang dimiliki bernilai nominal Rp 25.000,-. Kemudian ketika memasuki halte, tiket itu dimasukkan ke mesin penghitung. Seperti kartu telpon umum yang pernah marak beberapa tahun lalu, depositnya akan langsung berkurang. Untuk pelajar, sekali jalan dikenakan biaya dua ribu rupiah. Nah, jika perjalannya kurang dari satu jam, depositnya tidak berkurang.
Jalur
Seperti bus transjakarta yang memiliki koridor, bus transjogja memiliki koridor. Akan tetapi tidak (atau belum?) Sebanyak jakarta. Ada tiga jalur yang setiap jalur memiliki dua arah berkebalikan. Jalur 1(a&b), jalur 2(a&b), jalur 3(a&b). Berikut urutan selengkapnya :
Jalur 1A : TERMINAL PRAMBANAN - BANDARA ADISUCIPTO - STASIUN TUGU - MALIOBORO - JEC, dengan rute :
TERMINAL PRAMBANAN - S5 Kalasan - Bandara ADISUCIPTO - S3 Maguwoharjo - JANTI (bawah) - S3. UIN Kalijaga - S4 Demangan - S4 Gramedia - S4 Tugu - Stasiun Tugu - MALIOBORO - S4 Kantor Pos Besar - S4 Gondomanan - S4 Pasar Sentul - S4 SGM - GEMBIRA LOKA - S4 Babadan Gedongkuning - JEC - S4 Blok O - Janti (atas) - S3 Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S5 Kalasan - TERMINAL PRAMBANAN.
Jalur 1B : TERMINAL PRAMBANAN - BANDARA ADISUCIPTO - JEC - KANTOR POS BESAR - PINGIT - UGM,
dengan rute :
TERMINAL PRAMBANAN – S5.Kalasan – Bandara ADISUCIPTO – S3.Maguwoharjo – JANTI (lewat bawah) – S4.Blok-O – JEC - S4.Babadan Gedongkuning – GEMBIRALOKA – S4.SGM – S4.PasarSentul - S4.Gondomanan – S4.Kantor Pos Besar - S3.RS.PKU Muh – S3.Pasar Kembang - S4.Badran – Bundaran Samsat – S4.Pingit – S4.Tugu – S4. Gramedia – BUNDARAN UGM – S3.Colombo – S4.Demangan – S3.UIN Kalijaga – JANTI – S3.Maguwoharjo – BANDARA ADISUCIPTO – S5.Kalasan – TERMINAL PRAMBANAN
Jalur 2A : TERMINAL JOMBOR - MALIOBORO – BASEN – KRIDOSONO – UGM – TERMINAL CONDONGCATUR
dengan rute :
TERMINAL JOMBOR - S4 Monjali - S4 Tugu - Stasiun Tugu - MALIOBORO - S4 Kantor Pos Besar - S4 Gondomanan - S4 Jokteng Wetan - S4 Tungkak - S4 Gambiran - S3 Basen - S4 Rejowinangun - S4 Babadan Gedongkuning - GEMBIRA LOKA - S4 SGM - S3 Cendana - S4 Mandala Krida - S4 Gayam - Flyover Lempuyangan - KRIDOSONO - S4 Duta Wacana - S4 Galeria - S4 Gramedia - BUNDARAN UGM - S3 Colombo - TERMINAL CONDONGCATUR - S4 Kentungan - S4 Monjali - TERMINAL JOMBOR
Jalur 2B : TERMINAL JOMBOR – TERMINAL CONDONGCATUR – UGM – KRIDOSONO – BASEN – KANTOR POS BESAR – WIROBRAJAN - PINGIT
dengan rute :
TERMINAL JOMBOR – S4.Monjali – S4.Kentungan – TERMINAL CONDONGCATUR – S3.Colombo – BUNDARAN UGM – S4.Gramedia – KRIDOSONO – S4.DutaWacana - FlyoverLempuyangan - S4.Gayam – S4.Mandalakrida – S3.Cendana – S4.SGM – GEMBIRALOKA – S4.BabadanGedongkuning – S4.Rejowinangun – S3.Basen – S4.Tungkak – S4.Joktengwetan – S4.Gondomanan – S4.Kantor Pos Besar – S3.RS.PKU Muh. – S4.Ngabean – S4.Wirobrajan – S3.BPK – S4.Badran – Bundaran Samsat – S4.Pingit – S4.Tugu – S4.Monjali – TERMINAL JOMBOR
Jalur 3A : TERMINAL GIWANGAN – KOTAGEDE – BANDARA ADISUCIPTO – RINGROAD UTARA – MM UGM – PINGIT – MALIOBORO – JOKTENG KULON
dengan rute :
TERMINAL GIWANGAN – S4.Tegalgendu – S3.HS-Silver – Jl.NyiPembayun - S3.Pegadaian Kotagede – S3.Basen – S4.Rejowinangun – S4.Babadan Gedongkuning – JEC - S4.Blok-O – JANTI (lewat atas) - S3.Janti – S3.Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S3.Maguwoharjo – Ringroad Utara – TERMINAL CONDONGCATUR – S4.Kentungan – S4.MM UGM - S4.MirotaKampus – S3.Gondolayu – S4.Tugu – S4.Pingit – Bundaran Samsat - S4.Badran – S3.PasarKembang – Stasiun TUGU - MALIOBORO – S4.Kantor Pos Besar – S3.RS.PKU Muh. – S4.Ngabean – S4.JoktengKulon – S4.PlengkungGading - S4.JoktengWetan – S4.Tungkak – S4.Wirosaban – S4.Tegalgendu – TERMINAL GIWANGAN
Jalur 3B : TERMINAL GIWANGAN – JOKTENG KULON – PINGIT – MM UGM – RINGROAD UTARA – BANDARA ADISUCIPTO – KOTAGEDE
dengan rute :
TERMINAL GIWANGAN – S4.Tegalgendu - S4.Wirosaban – S4.Tungkak – S4.JoktengWetan – S4.PlengkungGading - S4.JoktengKulon – S4.Ngabean – S3.RS.PKU Muh. – S3.PasarKembang – S4.Badran – Bundaran Samsat – S4.Pingit – S4.Tugu – S3.Gondolayu – S4.MirotaKampus – S4.MM UGM - S4.Kentungan – TERMINAL CONDONGCATUR – Ringroad Utara – S3.Maguwoharjo – Bandara ADISUCIPTO – S3.Maguwoharjo – JANTI (lewat bawah) – S4.Blok-O – JEC - S4.Babadan Gedongkuning – S4.Rejowinangun – S3.Basen – S3.Pegadaian Kotagede – Jl.NyiPembayun - S3.HS-Silver – S4.Tegalgendu – TERMINAL GIWANGAN
Versi gambarnya? Tunggu info selanjutnya.....
Senin, 21 Januari 2008
RAMP HALTE BUS TRANS-JOGJA: UNTUK SIAPA ?
RAMP HALTE BUS TRANS-JOGJA: UNTUK SIAPA ?
Oleh: Fahdi Faaz
Peserta PPSDMS Nurul Fikri
Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Semenjak akan diberlakukannya bus Trans-Jogja, pemerintah langsung melakukan berbagai persiapan. Yang paling terlihat adalah dengan adanya pendirian halte bus. Halte bus inilah yang nantinya diharapkan sebagai satu-satunya tempat bus berhenti untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Harapannya bus Trans-Jogja dapat beroperasi setelah halte bus ini sepenuhnya selesai dibangun.
Memperhatikan desainnya, kita akan teringat pada halte bus untuk busway Trans-Jakarta. Bentuknya ramping memanjang, sejajar dengan jalan. Material yang digunakan adalah logam sebagai rangka pembentuknya dan kaca sebagai bidang penutupnya. Terkesan sangat modern. Namun halte bus trans-Jogja ini memiliki beberapa perbedaan dengan halte bus Trans-Jakarta. Pertama, nuansa lokal Jogja masih dapat kita temui di halte ini. Atap miring yang digunakan di beberapa halte, mengingatkan kita dengan rumah tradisional Jawa yang kita kenal dengan panggang pe.
Kedua, dominasi warna coklat pada material aluminium yang digunakan membuatnya terlihat lebih dekat dengan alam. Berbeda dengan warna abu-abu pada material halte bus Trans-Jogja yang didominiasi warna abu-abu. Ketiga, busway Trans-Jakarta memiliki jalur khusus dan calon penumpang masuk dari arah kanan. Sedangkan bus Trans-Jogja nantinya tidak memiliki jalur khusus dan calon penumpang tetap naik dari arah kiri. Seperti halnya halte bus Trans-Jakarta, lantai halte ini lebih tinggi dari muka jalan, dengan harapan penumpang tidak kesulitan ketika akan memasuki bus. Untuk mencapainya pun disediakan tangga dan ramp.
Nah, perbedaan selanjutnya adalah ramp. Ramp adalah suatu bidang miring yang menghubungkan dua ketinggian yang berbeda dengan sudut kemiringan tertentu (lebih landai dari kemiringan tangga). Ramp yang ada di halte bus Trans-Jakarta sangat landai. Hal ini sesuai dengan standar ramp untuk aktifitas manusia. Kemiringan ramp yang digunakan untuk aktifitas manusia menggunakan perbandingan 1:7. Artinya untuk mencapai ketinggian satu meter, maka jarak mendatar yang dibutuhkan adalah tujuh meter. Sebagai perbandingan, kemiringan ramp yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan misalnya mobil adalah 1:8. Contohnya bisa kita saksikan di gedung parkir ataupun di basement gedung yang digunakan sebagai tempat parkir.
Dari pengamatan yang saya lakukan, ramp di halte bus Trans-Jogja ini sama sekali tidak memenuhi persyaratan tersebut. Hasil pengamatan saya menunjukkan, untuk menuju ke ketinggian lantai halte yang 70-80 cm, jarak mendatarnya hanya 3,1 meter. Ini berarti kemiringannya hanya 1:3. Bahkan ada halte yang kemiringan rampnya sama dengan kemiringan tangga. Idealnya untuk mencapai ketinggian tersebut, jarak mendatar yang dibutuhkan adalah sekitar 4,9-5,6 meter. Kenapa kemiringan ramp ini penting? Sebenarnya untuk siapa ramp itu dibuat? Apakah betul-betul dibuat untuk mereka yang difabel? Atau hanya sekedar formalitas persyaratan perancangan bangunan?
Pada dasarnya, ramp dibuat untuk kemudahan akses bagi kaum difabel. Jika memang diperuntukan bagi kaum difabel maka kemiringan ramp tersebut harus dibenahi karena masih terlalu terjal. Misal suatu saat nanti ada seseorang yang menggunakan kursi roda dan hendak naik bus. Ketika menaiki ramp, ternyata kemiringannya terlalu besar, sehingga orang tersebut tidak dapat menaikinya. Padahal orang tersebut sendirian, dan tidak ada yang dapat menolongnya. Begitu pula jika yang akan menggunakannya adalah seorang kakek renta yang berjalan dibantu tongkat. Tentunya kakek tersebut akan kesulitan untuk menaikinya. Ramp yang seharusnya mempermudah akses malah menjadi penghalang akses. Mumpung belum terlanjur terbangun semua, sebaiknya rancangan ramp ini ditinjau kembali.
Ramp tersebut sebenarnya tidak hanya disediakan bagi para kaum difabel. Semua orang yang normal pun dapat menggunakannya. Jika kita merasa lelah untuk menaiki tangga misalnya. Kemudian ada falisitas ramp yang bisa diakses oleh semua orang. Tentunya kita tidak keberatan untuk menggunakannya. Selama ramp tersebut telah memenuhi persyaratan desain yang standar. Rancangan yang mampu mengakomodasi semua kepentingan seperti ini kerap disebut universal design.
Kamis, 17 Januari 2008
SAMPAH MINGGU PAGI
Apa yang bisa kita lihat setelah Sunday Morning di UGM? Ataupun setelah perayaan sekaten? Ataupun setelah acara nonton bareng? Ya. Sampah. Ratusan bahkan ribuan sampah bertebaran di semua sudut. Di jalan, tepi jalan, di trotoar, di bangku, bahkan di pot tanaman (mungkin ini tempat favorit). Masalah sampah ini dari dulu sudah menjadi tradisi dan susah dihilangkan. Kebiasaan masyarakat pada umumnya untuk menikmati hibura sambil nyemil makanan tingan memang tidak salah. Namun yang menjadi masalah adalah sampah dari bungkus makanan itu.
Di Boulevard UGM pada Sunday Morning misalnya. Ratusan sampai ribuan orang berkumpul untuk menikmati pasar setengah hari yang dibuka untuk umum. Puluhan pedagang, baik makanan, pernak-pernik, hiasan, pakaian, maupun mainan berjajar mulai dari depan pintu timur gelanggang mahasiswa sampai pintu keluar ke arah lembah di sebelah utara masjid kampus. Suasana yang menyenangkan memang, ketika itu hampir semua orang yang datang, berjalan kaki. Hanya beberapa orang yang nekad menaiki kendaraannya di tengah kerumunan itu. Suasana yang sudah sangat jarang dijumpai di kota ini.
Namun jika waktu mulai beranjak siang, dan pengunjung mulai berkurang, akan kita dapati pemandangan yang menyedihkan. Sampah bertebaran di mana-mana. Baik itu berupa sampah plastik, kertas, bahkan beberapa sisa makanan. Suasana lingkungan kampus yang bersih menjadi kotor. Seperti halnya dengan perayaan sekaten beberapa waktu yang lalu. Di kanan kiri jalan, bahkan di tengah alun-alun pun dijumpai banyak sampah.
Siapa yang harus disalahkan? Pengguna? Jelas. Pemerintah / pengelola? Juga bertanggung jawab. Pengguna dalam hal ini masyarakat yang memiliki andil sangat besar. Kebiasaan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat masih belum menjadi tradisi. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa ketika kita membuang sampah di sembarang tempat, berarti mereka memberi pekerjaan bagi pegawai kebersihan. pendapat ini tidak dapat dibenarkan. Ya kalau sempat dibersihkan. Kalau belum sempat dibersihkan dan tiba-tiba hujan deras mengguyur, sampah-sampah itu terakumulasi di saluran air dan hasilnya, banjir.
Pemerintah maupun pengelola, juga harus ikut bertanggung jawab dalam masalah sampah ini. Bukan hanya dalam mengelola sampah yang sudah ada, tetapi bagaimana cara agar masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat. Di kampanye membuang sampah kering dan sampah basah memang sudah digalakan. Masalahnya, tempat sampah itu malah ditempatkan di tempat dimana orang jarang berlalu lalang ataupun berkumpul. Sedangka di tempat public, dimana orag banyak berkumpul, justru tidak ada tempat sampah.
Di sepanjang boulevard UGM misalnya. Di area sepanjang dan seluas itu, tidak dijumpai ada tempat sampah di pinggir jalan. Walhasil, ketika ada orang yang makan kemudian bingung mencari tempat sampah, dan tidak menemukan temat sampah, boleh jadi sampahnya langsung dibuang di tempat. Berlaku pula di alun-alun, baik utara maupun selatan.
Bagaimana solusinya? Yang pertama kesadaran untuk membuang sampah di tempat sampah harus menjadi tradisi. Tradisi yang baik, yang jika kita melanggarnya, dampaknya dirasakan kita semua. Yang kedua, pemerintah dan pengelola lebih kritis dan tegas. Baik dalam penyedian tempat sampah maupun dalam menangani pelanggar hukum yang membuang sampah sembarangan. Dalam penyediaan tempat sampah, mungkin kita bisa mengambil contoh dari negri seberang. Di halaman St Vitus Cathedral di Praha, merupakan salah satu ruang publik kota Praha. Di lantainya, setiap radius sekian meter, tedapat lubang yang ditutup kisi-kisi besi yang digunakan sebagai tempat sampah. Karena di bawah muka tanah, tempat sampah ini tidak memakan banyak tempat. Tidak seperti tempat samapah konvensional yang diletakan di atas tanah. Mungkin sistem ini cocok untuk masyarakat kita yang masih sering membuang sampah langsung ke bawah.
Dalam penegakan kebiasaan, kita dapat bercermin dari Singapura yang disebut Fine City. Fine diartikan sebagai denda. Bahkan meludah pun jika dilakukan di sembarang tempat bisa kena denda, apalagi buang sampah. Belajar dari pengalaman semasa orde baru juga, ketiak penguasa bertindak sedikit banyak otoriter, namun berdampak cukup baik di beberapa bidang. Seperti China sekarang. Meskipun jumlah penduduknya mencapai dua milyar, namun ketertiban tetap terjaga. Sistem penegakan hukum yang bertangan besi seperti itu barangkali sewaktu-waktu perlu diterapkan di Indonesia. Siapa tahu?
Artikel dimuat di harian KOMPAS Yogyakarta, Rabu 10 Oktober 2007