
hanya sebuah foto iseng di pantai depok tahun lalu bareng anak-anak kelompok ospek fakultasku
Pendaftaran PPSDMS Angkatan IV, 2008-2010
Program beasiswa PPSDMS NF angkatan IV akan berlangsung Agustus 2008 sampai dengan Juli 2010. Sebagaimana angkatan sebelumnya, peserta yang akan dipilih untuk mengikuti program ini berjumlah 150 orang, dengan rincian sebagai berikut:
Pelamar yang terpilih menjadi peserta program beasiswa PPSDMS NF angkatan IV akan diasramakan dan berkewajiban mengikuti pembinaan selama dua tahun.
Peserta program akan memperoleh beasiswa senilai
Rp 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah) per bulan
yang meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
Peminat Program Beasiswa PPSDMS NF Angkatan IV harus mengisi Formulir Pendaftaran dengan lengkap secara on-line melalui link berikut selambat-lambatnya tanggal 30 April 2008.
for further information : www.ppsdms.org
RAMP HALTE BUS TRANS-JOGJA: UNTUK SIAPA ?
Oleh: Fahdi Faaz
Peserta PPSDMS Nurul Fikri
Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Semenjak akan diberlakukannya bus Trans-Jogja, pemerintah langsung melakukan berbagai persiapan. Yang paling terlihat adalah dengan adanya pendirian halte bus. Halte bus inilah yang nantinya diharapkan sebagai satu-satunya tempat bus berhenti untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Harapannya bus Trans-Jogja dapat beroperasi setelah halte bus ini sepenuhnya selesai dibangun.
Memperhatikan desainnya, kita akan teringat pada halte bus untuk busway Trans-Jakarta. Bentuknya ramping memanjang, sejajar dengan jalan. Material yang digunakan adalah logam sebagai rangka pembentuknya dan kaca sebagai bidang penutupnya. Terkesan sangat modern. Namun halte bus trans-Jogja ini memiliki beberapa perbedaan dengan halte bus Trans-Jakarta. Pertama, nuansa lokal Jogja masih dapat kita temui di halte ini. Atap miring yang digunakan di beberapa halte, mengingatkan kita dengan rumah tradisional Jawa yang kita kenal dengan panggang pe.
Kedua, dominasi warna coklat pada material aluminium yang digunakan membuatnya terlihat lebih dekat dengan alam. Berbeda dengan warna abu-abu pada material halte bus Trans-Jogja yang didominiasi warna abu-abu. Ketiga, busway Trans-Jakarta memiliki jalur khusus dan calon penumpang masuk dari arah kanan. Sedangkan bus Trans-Jogja nantinya tidak memiliki jalur khusus dan calon penumpang tetap naik dari arah kiri. Seperti halnya halte bus Trans-Jakarta, lantai halte ini lebih tinggi dari muka jalan, dengan harapan penumpang tidak kesulitan ketika akan memasuki bus. Untuk mencapainya pun disediakan tangga dan ramp.
Nah, perbedaan selanjutnya adalah ramp. Ramp adalah suatu bidang miring yang menghubungkan dua ketinggian yang berbeda dengan sudut kemiringan tertentu (lebih landai dari kemiringan tangga). Ramp yang ada di halte bus Trans-Jakarta sangat landai. Hal ini sesuai dengan standar ramp untuk aktifitas manusia. Kemiringan ramp yang digunakan untuk aktifitas manusia menggunakan perbandingan 1:7. Artinya untuk mencapai ketinggian satu meter, maka jarak mendatar yang dibutuhkan adalah tujuh meter. Sebagai perbandingan, kemiringan ramp yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan misalnya mobil adalah 1:8. Contohnya bisa kita saksikan di gedung parkir ataupun di basement gedung yang digunakan sebagai tempat parkir.
Dari pengamatan yang saya lakukan, ramp di halte bus Trans-Jogja ini sama sekali tidak memenuhi persyaratan tersebut. Hasil pengamatan saya menunjukkan, untuk menuju ke ketinggian lantai halte yang 70-80 cm, jarak mendatarnya hanya 3,1 meter. Ini berarti kemiringannya hanya 1:3. Bahkan ada halte yang kemiringan rampnya sama dengan kemiringan tangga. Idealnya untuk mencapai ketinggian tersebut, jarak mendatar yang dibutuhkan adalah sekitar 4,9-5,6 meter. Kenapa kemiringan ramp ini penting? Sebenarnya untuk siapa ramp itu dibuat? Apakah betul-betul dibuat untuk mereka yang difabel? Atau hanya sekedar formalitas persyaratan perancangan bangunan?
Pada dasarnya, ramp dibuat untuk kemudahan akses bagi kaum difabel. Jika memang diperuntukan bagi kaum difabel maka kemiringan ramp tersebut harus dibenahi karena masih terlalu terjal. Misal suatu saat nanti ada seseorang yang menggunakan kursi roda dan hendak naik bus. Ketika menaiki ramp, ternyata kemiringannya terlalu besar, sehingga orang tersebut tidak dapat menaikinya. Padahal orang tersebut sendirian, dan tidak ada yang dapat menolongnya. Begitu pula jika yang akan menggunakannya adalah seorang kakek renta yang berjalan dibantu tongkat. Tentunya kakek tersebut akan kesulitan untuk menaikinya. Ramp yang seharusnya mempermudah akses malah menjadi penghalang akses. Mumpung belum terlanjur terbangun semua, sebaiknya rancangan ramp ini ditinjau kembali.
Ramp tersebut sebenarnya tidak hanya disediakan bagi para kaum difabel. Semua orang yang normal pun dapat menggunakannya. Jika kita merasa lelah untuk menaiki tangga misalnya. Kemudian ada falisitas ramp yang bisa diakses oleh semua orang. Tentunya kita tidak keberatan untuk menggunakannya. Selama ramp tersebut telah memenuhi persyaratan desain yang standar. Rancangan yang mampu mengakomodasi semua kepentingan seperti ini kerap disebut universal design.
informsi eXchange
Kami mencari para relawan untuk berpartisipasi dalam program Global Xchange.
Global Xchange adalah program pertukaran pemuda berusia 18-25 dari berbagai negara untuk memberikan kesempatan bekerja sama, mengembangkan dan saling bertukar keterampilan, serta memberikan kontribusi praktis yang diperlukan oleh suatu komunitas tertentu. Selama 6 bulan, peserta akan tinggal dan bekerja berpasangan (satu dari masing-masing negara).
Program Global Xchange ini akan dimulai dari bulan Maret sampai September 2008. Relawan akan tinggal dan bekerja untuk tiga bulan di sebuah komunitas di Inggris (Maret – Juni 2008) dan diteruskan di Indonesia selamatiga bulan (Juni – September 2008).
Simak keterangan program sebelum mengisi formulir pendaftaran.
Pendaftaran akan ditutup pada hari Kamis, 31 January 2008, pukul 16:00 WIB.
Kami menyarankan Anda untuk mengirimkan formulir pendaftaran melalui email ke alamat berikut GX@britishcouncil.or.id .
Anda juga bisa mengirimkan aplikasi melalui post ke British Council (Global Xchange), Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Tower II, Lantai 16, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52 – 53, Jakarta 12190.
Hanya kandidat relawan terpilih yang akan mendapat pemberitahuan resmi dari kami dan pengumuman akan kami muat melalui website ini.
Mereka yang terpilih akan mengikuti Assessment Day pada tanggal 14 – 17 Februari 2008. Tempat akan diberitahukan kemudian.
Kami menawarkan kesempatan yang sama bagi semua orang dan mendorong para pelamar dari semua lapisan masyarakat. Kami menjamin wawancara bagi disabled people yang memenuhi persyaratan untuk posisi ini.
”UBIN KUNING” MALIOBORO & KOTABARU
Oleh: Fahdi Faaz
Pemerhati Arsitektur Kota
Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
(dimuat di Kompas Yogyakarta Rabu 21 November 2007)
Pernahkah kita memperhatikan pola perkerasan di trotoar sepanjang Malioboro? Dari ujung utara di depan Hotel Inna Garuda hingga ujung selatan, kemudian berbelok ke timur hingga pintu masuk ke Taman Pintar. Akan kita jumpai pada ada perkerasan berukuran duapuluh centimeter kali duapuluh centimeter berwana kuning cerah yang dipasang menerus. ”Ubin” yang dipasang ini memiliki dua macam pola. Yang pertama ubin dengan pola tonjolan berbentuk bulat, dan ubin dengan pola tonjolan berbentuk bulat panjang. Ubin ini bernama guiding blocks.
Selain di Malioboro, guiding blocks seperti ini pun dapat kita jumpai di Kotabaru. Tepatnya berada di trotoar tengah yang menjadi pembatas lajur kiri dan lajur kanan jalan. Guiding blocks ini dipasang sebagai alat bantu bagi kaum difabel, terutama tuna netra, jika sedang berjalan. Kaum difabel adalah golongan orang-orang yang memiliki keterbatasan pada kemampuannya, yang membedakannya dengan orang normal biasa. Dulu kita mengenal istilah penyandang cacat. Namun definisi kaum difabel lebih luas lagi, tidak hanya terbatas pada kaum penyandang cacat. Seorang ibu yang sedang hamil tua, seorang kakek renta pun tergolong kaum difabel.
Bagaimana prinsip kerjanya? Pola bulat panjang menunjukan jalan lurus. Sedangkan pola bulat berarti ada perubahan arah. Baik itu berupa belokan karena di depannya ada halangan, atau berupa percabangan jalan seperti halnya jalan umum.Pemasangan guiding blocks adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap kaum difabel (dahulu disebut dengan penyandang cacat), agar dapat menikmati fasilitas publik yang ada di kota.
Sayangnya, dari dua tempat yang dijadikan pilot project ini, tidak termanfaatkan sebagaimana mestinya. Di Kotabaru, ubin dipasang pada trotoar tengah. Masalahnya, siapa yang akan memakainya? Bahkan yang bukan kaum difabel pun jarang kita temui berjalan di trotoar tengah itu. Ditambah lagi ada lampu taman tepat berada di tengah-tengah jalur tersebut. Lampu ini mengganggu akses pejalan kaki karena harus berputar ke kanan atau ke kiri untuk menghindarinya. Kaum normal pun enggan, apalagi kaum difabel.
Di Malioboro, trotoar yang dipasangi guiding blocks, makin lama tertutup dengan banyaknya pedagang dan kendaraan yang diparkir. Bahkan boleh jadi sebagian besar orang tidak menyadari bahwa jalur kuning tersbut diperuntukkan bagi kaum difabel. Karena memang tidak pernah ada kaum difabel yang datang dan menggunakanya. Kecuali pada waktu-waktu tertentu saja, ketika diadakan simulasi mengenai aksesibilitas. Itu pun sangat jarang dilaksanakan.
Akses bagi kaum difabel di sebuah lingkungan, sesungguhnya tidak hanya berupa jalur ubin kuning tersebut. Tangga masuk ke suatu gedung misalnya. Bagi seseorang yang normal, tidak ada masalah ketika menaiki tangga. Namun berbeda halnya dengan seorang kakek renta yang berjalan menggunakan alat bantu berupa tongkat, misalnya. Untuk tangga, dibuatlah ramp. Ramp adalah sebuah bidang miring dengan kemiringan tertentu (lebih landai dari kemiringan tangga). Ramp memberikan kemudahan akses bagi semua orang khususnya aku difabel ketika hendak memasuki tempat yang letaknya lebih tinggi.
Kemudahan akses seperti ini masih sulit kita jumpai di kota ini. Aksesibilitas merupakan salah satu isu besar demi mewujudkan suatu kota yang humanis.
“Ayo Tong, kita sholat dulu. Mumpung boardingnya masih lama…”, kata teman saya.
“wah mas, tumben ngajakin sholat. Kok kemarin selama di Praha gak pernah kelihatan sholat?”, saya membalasnya.
“yah, ini khan udah kembali ke negri sendiri. Ya sholat lah…”, teman saya balas menimpali.
Percakapan tersebut terjadi di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta empat tahun silam. Ketika itu, saya dan serombongan duta wisata jawa tengah sedang menunggu pesawat menuju semarang. Kami baru kembali dari lawatan ke republik ceko, sebagai utusan misi kebudayaan. Rombongan kami berjumlah sebelas orang. Empat dari kami adalah pegawai dinas pariwisata jawa tengah. Sisanya adalah duta wisata, semacam putri Indonesia, dan pelajar berprestasi.
Selama satu minggu lawatan kami di negeri barat itu, saya merasakan banyak perbedaan. Di negara yang mayoritas pendudukanya adalah nonmuslim, keimanan kami betul-betul diuji. Dari sebelas orang, hanya satu orang yang beragama katholik. Satu hal yang paling terasa adalah ketika masuk waktu sholat. Di Indonesia, kita dapat dengan mudah mengetahui kapan tiba waktu sholat. Posisi Indonesia yang berada di daerah tropis, membuat perbandingan siang dan malam relatif sama sepanjang tahun. Akibatnya, waktu sholat dapat dengan mudah ditentukan. Kami berada di ceko pada awal musim gugur. Memang tidak begitu jauh berbeda dengan yang saya rasakan di Indonesia. Hanya saja waktu fajar dan petang bergeser satu jam. Saat itu matahari terbit pukul tujuh padi, tenggelam pukul tujuh malam. Untuk menentukan waktu sholat, sebenarnya dengan melihat bayangan, kita dapat mengetahuinya. Namun selama sepekan kami di sana, kami merasakan sinar matahari hanya di hari terakhir. Itupun sore hari. Akhirnya saya mengambil keputusan, untuk mementukan waktu sholat, saya menganalogikan dengan waktu sholat di Indonesia. Ditambah sekitar satu jam agar lebih yakin.
Nah, suatu ketika, kami menghabiskan waktu seharian penuh. Kami berjalan-jalan seputar kota tua (Old Town Square) hingga menjelang petang. Saya kebingungan ketika hendak melaksanakan shalat. Di mana saya akan shalat? Ditambah lagi saya tidak tahu arah. Tidak tahu mana arah utara. Cuaca tidak mendukung saat itu. Langit mendung menutupi pancaran sinar matahari. Apalagi saat itu musim gugur. Matahari tidak berada tepat di atas. Alhamdulillah, akhirnya kami mampir di rumah makan Indonesia. Pemilknya berasal dari Kalimantan. Dia sudah tinggal di Praha selama kurang lebih lima tahun. Dilihat dari namanya, pastilah dia seorang muslim. Setelah saya mengonfirmasi kepada tour guide, saya memberanikan diri untuk meminta izin melaksanakan sholat.
Ketika saya mengutarakan maksud saya, dia agak heran. Lebih tepatnya kebingungan. Dia bingung karena tidak ada ruang yang bisa digunakan untuk sholat. Saya merasa lebih bingung lagi ketika saya menanyakan arah kiblat. Dia menjawab dengan ragu, ”sepertinya ke arah sana…”, sembari menunjuk ke satu arah. Akhirnya dengan niat menghadap kiblat lillahi ta’ala, saya menggunakan sebuah bilik kecil. Bilik ini biasanya digunakan untuk jamuan dua orang. Setelah saya selesai sholat, gantian pendamping saya yang melaksanakan sholat. Anggota rombongan kami yang lain tidak bergerak. Kalau yang wanita, saya bisa memahami, mungkin sedang datang tamu bulanannya.
Demikian pula ketika kami melaksanakan kunjungan-kunjungan di hari-hari berikutnya. Keterbatasan waktu dan ketidaktersediannya tempat, membuat saya sholat di kendaraan ataupun setelah sampai di penginapan. Jarang sekali terlihat dari rombongan kami yang melaksanakan sholat. Terutama yang laki-laki. Teman saya pun demikian. Suatu ketika, teman sekamar saya mengatakan, “tong, sebelum tidur sholat dulu…”
“iya mas, ni baru mau sholat. Lha, njenengan kok gak sholat?”, balas saya.
“nah itu, makanya jangan tiru aku…”, jawabnya.
Sampai akhirnya, kami kembali ke Indonesia dan percakapan tersebut terjadi. Tanda tanya besar pada diri saya. Apakah kondisi umat Islam kita seperti ini? Memang tidak bisa dipukul rata. Tepat sekali jika dikatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada tingkat keimanan seseorang. Seperti halnya bulan ramadhan. Pada awal bulan, umat Islam sangat rajin untuk datang ke masjid, melaksanakan shalat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, dan sebagainya. Shaf-shaf selalu penuh. Bahkan sampai memasang atap terpal sebagai tambahan. Alasannya simpel, karena yang lain juga ke masjid. Makin bertambah hari, ada kemajuan. Kemajuan shaf tepatnya. Majelis ilmu mulai sepi.
Meskipun lingkungan berpengaruh, kekuatan ruhani diri kita adalah yang utama. Jika kita sudah memiliki benteng yang kokoh, insyaAllah, gempuran musuh tidak akan mampu menembus pertahanan kita. Semoga tulisan ini dapat membantu menguatkan hati kita, mengingatkan bahwa kita memiliki keleluasaan kesempatan untuk beribadah tidak seperti di belahan bumi lain. Istiqamah dalam beribadah haruslah terus dipertahankan. Persiapan dan bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. Kita tidak akan tahu apa yang akan menanti kita di depan. Manusia hanya dpat berusaha, Allahlah yang menentukan hasilnya. Wallahua’lam.
Apa yang bisa kita lihat setelah Sunday Morning di UGM? Ataupun setelah perayaan sekaten? Ataupun setelah acara nonton bareng? Ya. Sampah. Ratusan bahkan ribuan sampah bertebaran di semua sudut. Di jalan, tepi jalan, di trotoar, di bangku, bahkan di pot tanaman (mungkin ini tempat favorit). Masalah sampah ini dari dulu sudah menjadi tradisi dan susah dihilangkan. Kebiasaan masyarakat pada umumnya untuk menikmati hibura sambil nyemil makanan tingan memang tidak salah. Namun yang menjadi masalah adalah sampah dari bungkus makanan itu.
Di Boulevard UGM pada Sunday Morning misalnya. Ratusan sampai ribuan orang berkumpul untuk menikmati pasar setengah hari yang dibuka untuk umum. Puluhan pedagang, baik makanan, pernak-pernik, hiasan, pakaian, maupun mainan berjajar mulai dari depan pintu timur gelanggang mahasiswa sampai pintu keluar ke arah lembah di sebelah utara masjid kampus. Suasana yang menyenangkan memang, ketika itu hampir semua orang yang datang, berjalan kaki. Hanya beberapa orang yang nekad menaiki kendaraannya di tengah kerumunan itu. Suasana yang sudah sangat jarang dijumpai di kota ini.
Namun jika waktu mulai beranjak siang, dan pengunjung mulai berkurang, akan kita dapati pemandangan yang menyedihkan. Sampah bertebaran di mana-mana. Baik itu berupa sampah plastik, kertas, bahkan beberapa sisa makanan. Suasana lingkungan kampus yang bersih menjadi kotor. Seperti halnya dengan perayaan sekaten beberapa waktu yang lalu. Di kanan kiri jalan, bahkan di tengah alun-alun pun dijumpai banyak sampah.
Siapa yang harus disalahkan? Pengguna? Jelas. Pemerintah / pengelola? Juga bertanggung jawab. Pengguna dalam hal ini masyarakat yang memiliki andil sangat besar. Kebiasaan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat masih belum menjadi tradisi. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa ketika kita membuang sampah di sembarang tempat, berarti mereka memberi pekerjaan bagi pegawai kebersihan. pendapat ini tidak dapat dibenarkan. Ya kalau sempat dibersihkan. Kalau belum sempat dibersihkan dan tiba-tiba hujan deras mengguyur, sampah-sampah itu terakumulasi di saluran air dan hasilnya, banjir.
Pemerintah maupun pengelola, juga harus ikut bertanggung jawab dalam masalah sampah ini. Bukan hanya dalam mengelola sampah yang sudah ada, tetapi bagaimana cara agar masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat. Di kampanye membuang sampah kering dan sampah basah memang sudah digalakan. Masalahnya, tempat sampah itu malah ditempatkan di tempat dimana orang jarang berlalu lalang ataupun berkumpul. Sedangka di tempat public, dimana orag banyak berkumpul, justru tidak ada tempat sampah.
Di sepanjang boulevard UGM misalnya. Di area sepanjang dan seluas itu, tidak dijumpai ada tempat sampah di pinggir jalan. Walhasil, ketika ada orang yang makan kemudian bingung mencari tempat sampah, dan tidak menemukan temat sampah, boleh jadi sampahnya langsung dibuang di tempat. Berlaku pula di alun-alun, baik utara maupun selatan.
Bagaimana solusinya? Yang pertama kesadaran untuk membuang sampah di tempat sampah harus menjadi tradisi. Tradisi yang baik, yang jika kita melanggarnya, dampaknya dirasakan kita semua. Yang kedua, pemerintah dan pengelola lebih kritis dan tegas. Baik dalam penyedian tempat sampah maupun dalam menangani pelanggar hukum yang membuang sampah sembarangan. Dalam penyediaan tempat sampah, mungkin kita bisa mengambil contoh dari negri seberang. Di halaman St Vitus Cathedral di Praha, merupakan salah satu ruang publik kota Praha. Di lantainya, setiap radius sekian meter, tedapat lubang yang ditutup kisi-kisi besi yang digunakan sebagai tempat sampah. Karena di bawah muka tanah, tempat sampah ini tidak memakan banyak tempat. Tidak seperti tempat samapah konvensional yang diletakan di atas tanah. Mungkin sistem ini cocok untuk masyarakat kita yang masih sering membuang sampah langsung ke bawah.
Dalam penegakan kebiasaan, kita dapat bercermin dari Singapura yang disebut Fine City. Fine diartikan sebagai denda. Bahkan meludah pun jika dilakukan di sembarang tempat bisa kena denda, apalagi buang sampah. Belajar dari pengalaman semasa orde baru juga, ketiak penguasa bertindak sedikit banyak otoriter, namun berdampak cukup baik di beberapa bidang. Seperti China sekarang. Meskipun jumlah penduduknya mencapai dua milyar, namun ketertiban tetap terjaga. Sistem penegakan hukum yang bertangan besi seperti itu barangkali sewaktu-waktu perlu diterapkan di Indonesia. Siapa tahu?
Artikel dimuat di harian KOMPAS Yogyakarta, Rabu 10 Oktober 2007