Senin, 10 Maret 2008

laskar hellcat



hanya sebuah foto iseng di pantai depok tahun lalu bareng anak-anak kelompok ospek fakultasku

Rabu, 05 Maret 2008

long road to KKN (2)

Ngawi, 17:10
tanah air ku tidak kulupakan
kan terkenang sepanjang hidupku
biarpun saya pergi jauh
tak akan hilang dari kalbu
tanah ku yang kucintai
engkau kuhargai

Aku melihat keluar jendela. Sebuah padang luas terbentang sejauh mata memandang. Warna hijau yang menyejukan pandangan tersebar di segala arah. Diselingi beberapa pohon besar yang berdisi sendiri. Tidak jauh dart padang itu, deretan pohon jati membentuk sebuah hutan. Suatu kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan alam anugerah yang maha pencipta di bumi nusantara. Bumi yang katanya disebut-sebut sebagai zamrud khatulistiwa karena deratan hutan tropisnya. Kontras dengan fakta yang dicatat Guiness Book Of The World Record bahwa indonesia adalah negara dengan laju deforestisasi alias penggundulan hutan tertinggi di dunia. Dalam sepuluh menit, hutan seluas dua kali lapangan sepak bola, musnah.

Miris sekali ketika berita itu muncul di media sejak kuartal kedua tahun lalu. Di saat dunia sedang menjerit dan berteriak karena adanya pemanasan global, para pembalak hutan di indonesia dengan tenang membabat hutan demi kantongnya sendiri. Yah, tambah kantong ”saudara-saudara”nya lah. Bagi-bagi dosa.

Seperti juga kila saksikan kondisi nelayan di bangsa ini. Sejak mengenakan baju putih celana merah, kita sudah dijejali sebuah pernyataan ampuh,”INDONESIA ADALAH NEGARA MARITIM. INDONESIA ADALAH NEGARA KELUPAUAN TERBESAR DI DUNIA. PULAU-PULAUNYA MEMBENTANG LEBIH DARI 5000 KM DARI TIMUR KE BARAT BERJAJAR LEBIH DARI 17RIBU PULAU.”. Akan tetapi jika kita lihat kondisinya, sangat bertolak belakang. Nelayan adalah salah satu profesi penduduk paling miskin di negeri maritim nan kaya ini. Permukiman nelayan di sudut pulau manapun di indonesia adalah permukiman paling menyedihkan, selain mengenaskan tentunya.

long road to KKN (1)

ahad, 2 maret 2008
terminal penumpang tipe A giwangan, yogyakarta

Arloji di tangan kiriku menunjukan pukul dua puluh menit lebihnya dari pukul dua siang. Akhirnya kami akan segera berangkat setelah tertunda lima jam. Rencananya, kami tim KKN UGM di Tulungagung akan berangkat pada pukul 09.00. Akan tetapi, sandhy sang koordinator, menunda keberangkatan hingga pukul satu siang karena alasan tertentu. Kami berempat, tiga orang dari psikologi dan aku sendiri satu-satunya yang bukan dari psikologi. Keberangkatan kami kesana dengan tujuan memperjelas status usulan program KKN yang sudah kami ajukan beberapa waktu yang lalu. Pada pertemuan dua hari sebelumnya, semua orang yang di tim ini sudah mempersiapkan segala kemungkinan. Kemungkinan pertama, KKN tetap jalan sesuai usulan program yang telah diajukan, dengan resiko kembali dari awal. Kemungkinan kedua, program KKN tetap berjalan, namun programnya menyesuaikan program pemda setempat. Kemungkinan ketiga, bubar.

Kami berkumpul lengkap tepat pada pukul 14.10. Segera kami menuju parkir bus jurusan surabaya yang terletak di ujung timur kompleks terminal bus ini. Saat menuju lokasi, saya sempat bingung karena sandhy tidak mengambil jalur biasanya. Umumnya, setiap kali calon penumpang akan naik bus, ma apenumpang akan menuju peron baik di lantai dasar maupun lantai atas. Baru kemudian menelusuri selasar menuju pool bus yang dituju. Ternyata shandy tidak melakukan hal itu. Dengan ringannya, dia memimpin kami menelusuri sisi selatan terminal, menyusup melalui jalan sempit di samping kios dan kamar mandi, dan ketika kami keluar, kami sudah berada di pool bus antar kota. Ajaib, pikirku. Aku sudah puluhan kali keluar masuk terminal ini sejak mendaftar kuliah, baru tahu kalau ada jalan tikus seperti itu. Yah, entah apa alasannya, apakah karena enggan membayar atau enggan berurusan dengan petugas peron. Tidak mahal sebenarnya untuk membayar tiket peron. hanya dua ratus rupiah per orang sekali masuk. Namun pelayanan dari petugas yang tanpa senyum itu yang kadang membuat gerah.
Kami memasuki bus berjudul EKA. Bus ini memiliki trayek Jogja-Solo-Surabaya via Karangjati. Alhamdulillah, kami cukup beruntung. Ketika kami datang, bus hampir terisi penuh dan siap berangkat. Tempat duduk yang tersisa hanya ada di bagian belakang. Sandhy mengambil tempat duduk sebelah kiri dekat jendela, baris kedua dari pintu belakang. Umi berada di seberangnya bersama Danur. Aku sendiri duduk di belakang Umi. Dia menyarankan agar aku duduk bersama Sandhy. Aku menolaknya. Dia kembali menawarkan apakah aku akan duduk dengannya, sedangkan Danur bersama Sandhy. Aku kembali menolaknya. Kenapa? Secara ya, kalau kondisinya gak darurat, aku gak mau duduk bersebelahan sama seorang perempuan. Di dalam bus pula. Tapi aku klatakan, aku ingin duduk di samping jendela. Masalah selesai.

Belum ada lima menit kami menikmati tempat duduk empuk di bus ber-AC itu, sopir bus langsung mengambil posisi memundurkan kendaraannya. Segera berangkat. Alhamdulillah, pikirku, kami sampai di terminal tepat waktu. Bus yang kami naiki penuh, hampir semua tempat duduk terisi. Hanya tersisa paling satu atau dua tempat duduk. Tidak mungkin ada penumpang yang berdiri. Karena ini adalah bus PATAS. Artinya, penumpang membayar untuk mendapatkan kenyamanan. Salah satunya adalah tempat duduk. Lain halnya dengan bus ekonomi pada umumnya, dimana penumpang membayar hanya agar dapat diangkut. Sebuah pepatah Jawa mengatakan rupa nggawa rega. Artinya wajah membawa harga. Dengan adanya fasilitas yang diberikan tersebut, sudah pasti harga tiketnya lebih mahal.

ﺑﺴﻢﷲ ﺗﻮﻛﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﷲ ﻻ ﺣﻮﻠ ﻮﻻ ﻗﻮﺓ ﺇﻻ ﺐﷲ
ﺴﺒﺣﺎﻥ ﺍﻠﺬﻯ ﺳﺧﺮ ﻟﻧﺎ ﮬﺬﺍ ﻮﻣﺎ ﻛﻧﺎ ﻟﻪ ﻣﻛﺮﻧﻴﻦ ﻮﺇﻦ ﺇﻟﻰ ﺮﺑﻧﺎ ﻠﻣﻦ ﻗﺎﻠﺑﻮﻦ


’Mba EKA’ perlahan mulai bergerak meninggalkan peron terminal. Merambat menuju jalan besar. Iringan four season symphony dari antonio vivaldi mengiringi keberangkatan kami. Yah, sebenarnya mengiringi keberangkatanku sih. Soalnya dari mp3. Bukan dari speaker bus.

Kamis, 21 Februari 2008

peta jalur bus transJogja

Hari Keempat Uji Coba Moda Transportasi Baru Kota Jogja

Perempatan Kentungan pukul 10.00

Sebuah bus transJogja melaju dari arah selatan menyeberang ring road utara berbelok menuju arah timur. Belum sepenuhnya badan bus sejajar dengan jalan, bus transJogja berhenti. Ternyata terpisah sebuah mobil di depannya ada sebuah bus kota yang berhenti karena hendak menaikan penumpang. Padahal saat itu lampu bagian barat menyala hijau. Arus kendaraan dari barat segera meluncur ke arah timur. Hasilnya, untuk selama sekitar sepuluh detik, arus lalu lintas sempat macet. Beberapa pengemudi menambah keruwetan dengan membunyikan klakson kendaraannya.

Beberapa kali bus transJogja mengalami hal serupa. Tidak dapat melaju dengan mulus karena ada kendaraan lain yang berada di jalurnya. Entah itu mobil pribadi yang sedang parker ataupun bus kota “lama” yang sedang “ngetem” atau menunggu penumpang. Akibatnya, jadwal perjalanan cenderung mengalami masalah. Minimal keterlambatan kedatangan.

Nah, masalah lain adalah sulitnya memasuki bus karena ada selisih jarak yang cukup besar antar pintu bus dan pintu halte. Masih banyak pengemudi yang belum terbiasa untuk mengepaskan posisi pintu masuk bus dengan pintu halte. Banyak pengguna yang mengeluh karena ada jarak yang cukup menyulitkan untuk memasuki bus. Terkadang jarak antara pintu halte dan pintu bus bisa mencapai lima puluh centimeter. Jarak ini cukup menyulitkan anak-anak ataupun manula. Untunglah ada pramugari dan pramugara yang selalu siap membantu calon penumpang.

Ada dua faktor yang menyebabkan adanya selisih jarak ini. Pertama, dari faktor manusia. Pengemudi bus transJogja belum terbiasa untuk memarkir bus agar pas dengan halte. Ujicoba kendaraan sangat minim, apalagi unicoba calon pengemudi. Hasilnya, pengemudi bus belum terbiasa dengan kondisi halte. Kedua, faktor teknis. Perletakan halte yang tidak steril di kanan kirinya, menyebabkan pegemudi kesulitan untuk mengepas bus. Adanya halangan berupa pohon, mobil yang diparkir, ataupun lapak pedagang kaki lima, menghalangi laju gerak bus.

Bagaimana untuk mengatasinya? Area sekitar halte harus steril. dalam jarak minimal lima belas meter kanan dan kiri halte harus bersih dari gangguan. Tidak boleh ada kendaraan yang diparkir, tidak boleh ada lapak PKL yang sekiranya mengganggu jalur bus, dan pohon yang menghalangi pandangan.

Senin, 18 Februari 2008

FINALLY: bus transJogja diluncurkan!

Hari senin ini menjadi hari yang bersejarah bagi warga jogja. Apa pasal? Program reformasi angkutan yang sudah didengungkan sejak setahun lalu akhirnya berjalan. Hari ini, setelah ditunda untuk sekian lama, bus trans jogja beroperasi. Meskipun ukurannya tidak jauh berbeda dengan bus kota yang ada sekarang, bus trans jogja memiliki beberapa perbedaan. Pertama, pintu masuk penumpang ada di tengah, seperti halnya bus transjakarta. Kedua, tempat duduknya pun sama seperti bus transjakarta, berhadapan di posisi memanjang. Ketiga, memakai air conditioning pula. Keempat, tidak ada kondektur yang menarik bayaran di dalam bus. Tiket dibeli dan disahkan di halte. Kelima, armadanya masih sangat baru. Jauh berbeda dengan bus-bus kota yang ada sekarang ini.

Di hari perdana uji coba ini, yang rencananya akan berlangsung selama dua minggu, cukup banyak warga jogja yang tertarik untuk mencobanya. Betul, sekadar mencoba. Seperti halnya warga jakarta ketika bus transjakarta diluncurkan pertama kalinya.

Dalam ticketing, pengelola menyediakan dua alternatif, tiket sekali jalan, atau langganan. Tiket sekali jalan hanya bisa digunakan sekali perjalanan. Sedangkan tiket berlangganan, dapat digunakan berkali-kali hingga deposit yang ada di teiket tersebut habis. Tiket berlangganan ini diperuntukan bagi pelajar. Sistemnya seperti deposit untuk pulsa. Misalnya, tiket yang dimiliki bernilai nominal Rp 25.000,-. Kemudian ketika memasuki halte, tiket itu dimasukkan ke mesin penghitung. Seperti kartu telpon umum yang pernah marak beberapa tahun lalu, depositnya akan langsung berkurang. Untuk pelajar, sekali jalan dikenakan biaya dua ribu rupiah. Nah, jika perjalannya kurang dari satu jam, depositnya tidak berkurang.

Jalur
Seperti bus transjakarta yang memiliki koridor, bus transjogja memiliki koridor. Akan tetapi tidak (atau belum?) Sebanyak jakarta. Ada tiga jalur yang setiap jalur memiliki dua arah berkebalikan. Jalur 1(a&b), jalur 2(a&b), jalur 3(a&b). Berikut urutan selengkapnya :
Jalur 1A : TERMINAL PRAMBANAN - BANDARA ADISUCIPTO - STASIUN TUGU - MALIOBORO - JEC, dengan rute :
TERMINAL PRAMBANAN - S5 Kalasan - Bandara ADISUCIPTO - S3 Maguwoharjo - JANTI (bawah) - S3. UIN Kalijaga - S4 Demangan - S4 Gramedia - S4 Tugu - Stasiun Tugu - MALIOBORO - S4 Kantor Pos Besar - S4 Gondomanan - S4 Pasar Sentul - S4 SGM - GEMBIRA LOKA - S4 Babadan Gedongkuning - JEC - S4 Blok O - Janti (atas) - S3 Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S5 Kalasan - TERMINAL PRAMBANAN.

Jalur 1B : TERMINAL PRAMBANAN - BANDARA ADISUCIPTO - JEC - KANTOR POS BESAR - PINGIT - UGM,
dengan rute :
TERMINAL PRAMBANAN – S5.Kalasan – Bandara ADISUCIPTO – S3.Maguwoharjo – JANTI (lewat bawah) – S4.Blok-O – JEC - S4.Babadan Gedongkuning – GEMBIRALOKA – S4.SGM – S4.PasarSentul - S4.Gondomanan – S4.Kantor Pos Besar - S3.RS.PKU Muh – S3.Pasar Kembang - S4.Badran – Bundaran Samsat – S4.Pingit – S4.Tugu – S4. Gramedia – BUNDARAN UGM – S3.Colombo – S4.Demangan – S3.UIN Kalijaga – JANTI – S3.Maguwoharjo – BANDARA ADISUCIPTO – S5.Kalasan – TERMINAL PRAMBANAN

Jalur 2A : TERMINAL JOMBOR - MALIOBORO – BASEN – KRIDOSONO – UGM – TERMINAL CONDONGCATUR
dengan rute :
TERMINAL JOMBOR - S4 Monjali - S4 Tugu - Stasiun Tugu - MALIOBORO - S4 Kantor Pos Besar - S4 Gondomanan - S4 Jokteng Wetan - S4 Tungkak - S4 Gambiran - S3 Basen - S4 Rejowinangun - S4 Babadan Gedongkuning - GEMBIRA LOKA - S4 SGM - S3 Cendana - S4 Mandala Krida - S4 Gayam - Flyover Lempuyangan - KRIDOSONO - S4 Duta Wacana - S4 Galeria - S4 Gramedia - BUNDARAN UGM - S3 Colombo - TERMINAL CONDONGCATUR - S4 Kentungan - S4 Monjali - TERMINAL JOMBOR

Jalur 2B : TERMINAL JOMBOR – TERMINAL CONDONGCATUR – UGM – KRIDOSONO – BASEN – KANTOR POS BESAR – WIROBRAJAN - PINGIT
dengan rute :
TERMINAL JOMBOR – S4.Monjali – S4.Kentungan – TERMINAL CONDONGCATUR – S3.Colombo – BUNDARAN UGM – S4.Gramedia – KRIDOSONO – S4.DutaWacana - FlyoverLempuyangan - S4.Gayam – S4.Mandalakrida – S3.Cendana – S4.SGM – GEMBIRALOKA – S4.BabadanGedongkuning – S4.Rejowinangun – S3.Basen – S4.Tungkak – S4.Joktengwetan – S4.Gondomanan – S4.Kantor Pos Besar – S3.RS.PKU Muh. – S4.Ngabean – S4.Wirobrajan – S3.BPK – S4.Badran – Bundaran Samsat – S4.Pingit – S4.Tugu – S4.Monjali – TERMINAL JOMBOR

Jalur 3A : TERMINAL GIWANGAN – KOTAGEDE – BANDARA ADISUCIPTO – RINGROAD UTARA – MM UGM – PINGIT – MALIOBORO – JOKTENG KULON
dengan rute :
TERMINAL GIWANGAN – S4.Tegalgendu – S3.HS-Silver – Jl.NyiPembayun - S3.Pegadaian Kotagede – S3.Basen – S4.Rejowinangun – S4.Babadan Gedongkuning – JEC - S4.Blok-O – JANTI (lewat atas) - S3.Janti – S3.Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S3.Maguwoharjo – Ringroad Utara – TERMINAL CONDONGCATUR – S4.Kentungan – S4.MM UGM - S4.MirotaKampus – S3.Gondolayu – S4.Tugu – S4.Pingit – Bundaran Samsat - S4.Badran – S3.PasarKembang – Stasiun TUGU - MALIOBORO – S4.Kantor Pos Besar – S3.RS.PKU Muh. – S4.Ngabean – S4.JoktengKulon – S4.PlengkungGading - S4.JoktengWetan – S4.Tungkak – S4.Wirosaban – S4.Tegalgendu – TERMINAL GIWANGAN

Jalur 3B : TERMINAL GIWANGAN – JOKTENG KULON – PINGIT – MM UGM – RINGROAD UTARA – BANDARA ADISUCIPTO – KOTAGEDE
dengan rute :
TERMINAL GIWANGAN – S4.Tegalgendu - S4.Wirosaban – S4.Tungkak – S4.JoktengWetan – S4.PlengkungGading - S4.JoktengKulon – S4.Ngabean – S3.RS.PKU Muh. – S3.PasarKembang – S4.Badran – Bundaran Samsat – S4.Pingit – S4.Tugu – S3.Gondolayu – S4.MirotaKampus – S4.MM UGM - S4.Kentungan – TERMINAL CONDONGCATUR – Ringroad Utara – S3.Maguwoharjo – Bandara ADISUCIPTO – S3.Maguwoharjo – JANTI (lewat bawah) – S4.Blok-O – JEC - S4.Babadan Gedongkuning – S4.Rejowinangun – S3.Basen – S3.Pegadaian Kotagede – Jl.NyiPembayun - S3.HS-Silver – S4.Tegalgendu – TERMINAL GIWANGAN

Versi gambarnya? Tunggu info selanjutnya.....

Minggu, 10 Februari 2008

Lomba Foto dari UNAIR

Halo temen2 mahasiswa pecinta fotografi.. :)
kami dari BEM FE UNAIR Surabaya mengadakan lomba fotografi antar
mahasiswa seluruh indonesia dengan tema "Alkulturasi Budaya Indonesia"
ini syarat dan ketentuannya :
Persyaratan Peserta AFotografiA
1. Dikirim ke alamat :
BEM FE Unair: Graha Krida Mahasiswa Lt. 1, Kav A1 Fakultas Ekonomi
Universitas Airlangga
Jl. Airlangga 4-6 Surabaya Telp (031) 5033642 psw. 128
Fax. (031) 5026288.
Pembayaran ke : memakai rekening ECOAS pusat melalui rekening No.Rek
141-00-0597492-8 a.n Paramita Raditya Putri Bank Mandiri Cab. Universitas
Airlangga. Uang pendaftaran : Rp 10.000,- / karya
2. Ukuran foto: 6R untuk kurasi, dan 12R untuk pameran, dua-duanya
dicetak oleh peserta (dicetak dove)
3. Keterangan foto
Foto harus dilengkapi dengan ketera
LEMBAR 1 (identitas pengirim)
a. nama fotografer
b. alamat fotografer
c. e-mail fotografer
d. no telepon dan HP fotografer
e. fotocopy KTM, KTP, slip pembayaran

LEMBAR 2 (identitas foto)
a. judul
b. lokasi
c. deskripsi
d. jenis kamera
e. shulter speed
f. aperture value/diafragma

NB : dibalik foto hanya tertulis:
Nama :
Judul :

4. Foto hasil karya sendiri
5. Foto boleh diolah digital tetapi tidak dimanipulasi digital,
seperti:
a. sharpening
b. desaturale (menghilangkan warna) secara keseluruhan, bukan hanya
sebagian dari foto
c. menggunakan tool untuk menghapus cacat
d. mengubah colour balance, sekma terlalu ekstrem bertujuan untuk
menampilkan hasil yang natural
e. meningkatkan saturasi warna, selama tidak terlalu ekstrem dan
bertujuan untuk menampilkan hasil yang natural
f. penggunaan noise removal trol diijinkan, selama tidak ekstrem (hanya
diperbolehkan oleh digital sebatas ketentuan di atas)
6. Foto yang diterima hanya yang sesuai dengan tema, yaitu AKebudayaanA
dengan AAkulturasi Budaya IndonesiaA dan foto hendaknya memiliki
batasan sbb:
a. bukan foto nude
b. bukan foto yang secara langsung menyinggung pihak lain (penghinaan,
cercaan, dan lain-lain)
7. Foto yang lolos kurasi dan foto juara akan dipamerkan pada tanggal
28, 29 Februari, dan 1 Maret 2008 bertempat di Mall City of Tommorow
Surabaya, dimulai pukul 10.00-21.00 WIB
8. Bisa analog dan digital
9. Jika foto tidak sesuai dengan tema, langsung didiskualifikasi
10. Segala bentuk kecurangan dari ketentuan di atas akan didiskualifikasi dari panitia
11. Foto belum pernah diikutkan dalam lomba manapun
12. Hadiah
Juara 1 : piala+sertifikat+uang
Juara 2 : piala+sertifikat+uang
Juara 3 : piala+sertifikat+uang
Juara Favorit : sertifikat+uang
13. Kurator :
1)Yuyung Abdi (Jurnalis Jawa Pos)
2)Agus AKucingA (Budayawan)
3)Mamuk Ismuntoro (Jurnalis)

Media publikasi: website, Poster A3 (500), baliho (2), radio, dan
televisi (SCTV media official partner)
14. Panitia tidak bertanggung jawab terhadap gugatan pihak ketiga yang
terkait dengan objek foto
15. Segala keputusan juri tidak dapat di ganggu gugat
16. Pengumpulan karya paling lambat tgl 22 febuari 2008

kalo ada yang tidak jelas, bisa kok tanya balik :D
kalo pingin hubungi hubungi CP :
08563028020 (idris)

Lomba Slogan & Foto Sampah

Senin, 2008 Februari 04

Gerakan Hidup Bersih dan Sehat (Jakarta) dan Rotary International mengadakan Lomba Sarana Kampanye Sampah sbb:

(http://berkahsampah .blogspot. com)

A. LOMBA SLOGAN
Hadiah:
Juara Pertama: Rp. 5.000.000
Juara Kedua: Rp. 4.000.000
Juara Ketiga: Rp. 3.000.000
Juara Harapan: Rp. 500.000 (untuk 5 pemenang)

Dewan Juri:
Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Bintang Nugroho
Persyaratan Lomba Slogan:
1. Terbuka untuk seluruh Warga Negara Indonesia, kecuali anggota Panitia Lomba dan Dewan Juri Lomba beserta keluarganya. Peserta tidak dipungut biaya.

2. Menyebutkan identitas diri (nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon).

3. Setiap Karya Slogan harus mengacu kepada tema; yang mengingatkan, menggugah dan mengajak orang untuk peduli akan hidup bersih dan sehat, khususnya membuang/menaruh dan memilah sampah.

4. Karya Slogan harus asli, orisinil, bukan jiplakan, dan belum pernah dipublikasikan atau disayembarakan. Panitia tidak bertanggung jawab bila ada tuntutan hukum dari pihak lain atas Karya Slogan yang dikirim oleh peserta lomba.

5. Karya Slogan tidak boleh mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).
Panitia akan mendiskualifikasi karya yang mengandung unsur SARA.

6. Karya Slogan menggunakan bahasa Indonesia/bahasa asing (asal dimengerti), mudah diingat, diucapkan dan komunikatif. Panjang slogan (jumlah karakter) tidak dibatasi.

7. Penjelasan/arti/ makna/pesan yang tersirat dalam slogan akan ditanyakan pada waktu audisi.
Peserta dapat mengirimkan Karya Slogan sebanyak-banyaknya (tidak terbatas).

8. Panitia penyelenggara dan dewan juri tidak melayani surat-menyurat dalam kaitan dengan lomba ini. Info lebih lanjut kunjungi: www.berkahsampah.blogspot.com

9. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

10. Cara pengiriman Karya Slogan:
Via pos atau diantar langsung dengan alamat:
Gerakan Hidup Bersih dan Sehat,
Jl. Kramat VI No. 22 Jakarta 10430.

Karya Slogan dimasukan ke dalam amplop dengan tulisan LOMBA SLOGAN disudut kiri atas amplop.
. Via email: berkahsampah@ gmail.com
. Via SMS: (021) 30584439

11. Karya Slogan sudah harus diterima paling lambat 31 Maret 2008 pk.16.00 WIB

B. LOMBA BERCERITA DENGAN FOTO
Hadiah:
Juara Pertama: Rp. 5.000.000
Juara Kedua: Rp. 4.000.000
Juara Ketiga: Rp. 3.000.000
Juara Harapan: Rp. 500.000 (untuk 5 pemenang)

Dewan Juri:
Andy F. Noya, Brigitta Isworo dan Eka Budianta

Persyaratan Lomba:
1. Terbuka untuk pelajar dan mahasiswa, kecuali anggota Panitia Lomba dan Dewan Juri Lomba beserta keluarganya. Peserta tidak dipungut biaya.

2. Melampirkan identitas diri (nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon/handphone) dan fotokopi Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar.

3. Setiap Karya Lomba harus mengacu kepada tema; yang mengingatkan, menggugah dan mengajak orang untuk peduli akan hidup bersih dan sehat, khususnya membuang/menaruh dan memilah sampah.

4. Karya Lomba terdiri dari 2-4 rangkaian foto ukuran 4R, ditempel di atas kertas A3, diberi judul dan cerita yang tidak melebihi 25 kata.

5. Olah digital hanya diperbolehkan pada proses croping, brightness, contrass & mode color.

6. Karya Lomba harus merupakan karya sendiri dan belum pernah menang dalam lomba foto apapun. Untuk calon pemenang akan dikonfirmasi keaslian karyanya dengan menunjukkan file digital asli atau negative film. Panitia tidak bertanggung jawab bila ada tuntutan hukum dari pihak lain atas karya foto yang dikirimkan.

7. Peserta dapat mengirimkan sebanyak-banyaknya Karya Lomba Bercerita dengan Foto.

8. Panitia penyelenggara dan dewan juri tidak melayani surat-menyurat dalam kaitan dengan lomba ini. Info lebih lanjut kunjungi: www.berkahsampah.blogspot.com

9. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

10. Cara pengiriman Karya Lomba Bercerita dengan Foto:
Via pos atau diantar langsung ke alamat:
Gerakan Hidup Bersih dan Sehat,
Jl. Kramat VI No. 22 Jakarta 10430.

Karya Lomba dimasukan ke dalam amplop dengan tulisan LOMBA FOTO disudut kiri atas amplop.

11. Karya Lomba sudah harus diterima paling lambat 31 Maret 2008 pk.16.00 WIB

www.anakaletta.multiply.com
www.kampungcahaya.blogspot.com

LOMBA PENULISAN RUBRIK KOLOM AYAH MAJALAH UMMI

Rabu, 2008 Februari 06
LOMBA PENULISAN RUBRIK KOLOM AYAH MAJALAH UMMI
Untuk lomba menulis kali ini, majalah Ummi mengundang para pembaca PRIA untuk menuliskan pandangan, perasaan, dan pengalaman sebagai ayah, sebagai calon ayah, sebagai suami, sebagai anak, sebagai menantu, dan sebagainya.

SYARAT PENULISAN:
1. Lomba terbuka untuk muslim warga negara Indonesia;
2. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media mana pun;
3. Naskah ditulis rangkap tiga, spasi ganda, dan diketik pada kertas folio. Panjang naskah tak lebih dari 3000-3500 karakter atau 400-500 kata;
4. Redaksi berhak menyunting naskah dan mengganti judul;
5. Naskah diterima redaksi paling lambat tanggal 31 Maret 2008 cap pos. Sertakan data diri yang lengkap, foto (pas foto atau foto close up lainnya) dan nomor rekening;
6. Peserta boleh mengirimkan naskah lebih dari satu dalam amplop terpisah;
7. Pada sebelah kiri atas amplop, tempelkan kupon lomba penulisan (kupon bisa di dapat di majalah Ummi No. 10/XIX/Februari 2008 hal.86);
8. Kirimkan naskah lomba ke redaksi majalah Ummi, Jl. Mede No. 42, Utan Kayu, Jakarta Timur 13120;
9. Para pemenang lomba penulisan ini akan diumumkan pada Ummi edisi 1/XX yang terbit pada bulan Mei 2008;
10. Naskah yang tidak memenangkan lomba tapi dianggap layak, akan dimuat pada rubrik Kolom Ayah di majalah Ummi dengan mendapat honor sebagaimana biasanya.

HADIAH* UNTUK TIGA ORANG PEMENANG:
1. Pemenang pertama mendapat uang tunai sebesar Rp. 600.000; dan berlangganan majalah Ummi selama tiga bulan;
2. Pemenang kedua mendapat uang tunai sebesar Rp. 500.000; dan berlangganan majalah Ummi selama tiga bulan;
3. Pemenang ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp. 400.000; dan berlangganan majalah Ummi selama tiga bulan;

*)Hadiah sudah termasuk honor pemuatan.

www.anakaletta.multiply.com
www.kampungcahaya.blogspot.com

Lomba Nulis Honda

Lomba Nulis Honda
Kalau kamu hobi nulis, punya pemikiran kreatif dan berwawasan luas,
segera ambil pulpen dan tulis ceritamu tentang Honda sesuai dengan
tema yang tersedia.
Menangkan 12 motor Honda serta berbagai hadiah menarik lainnya!

Kategori dan Tema Karya Tulis:

* Kategori Jurnalis
o Sepeda motor Honda sebagai industri motor terbesar di
Indonesia.
o Kontribusi industri sepeda motor Honda di Indonesia.

* Kategori Pelajar SMA
o Iklan Honda yang santun dan beretika.
o Sepeda motor yang sesuai dengan selera anak muda.

* Kategori Mahasiswa/i
o Sepeda motor Honda yang berteknologi tinggi dan ramah
lingkungan.
o Keselamatan & kenyamanan etika berkendara.

* Kategori Umum
o Sepeda motor Honda sebagai sahabat dalam kehidupan
sehari-hari.
o Sepeda motor Honda bagian dari hidup.


Kriteria Karya Tulis:

* Karya tulis yang dikirimkan harus memiliki orisinilitas ide.
* Karya tulis diketik di kertas A4, min. 5, maks. 10 lembar.
* Tulisan diketik dengan jarak 1,5 spasi dengan menggunakan font
Tahoma ukuran 11.
* Area pengetikan adalah kiri 2 cm, kanan 2 cm, atas 2 cm, bawah 2
cm.
* Untuk pengiriman tulisan melalui website, format file yang
diperbolehkan adalah PDF dan DOC dengan ukuran file maksimal 500kb.
* Apabila tulisan dibuat oleh lebih dari satu orang atau team,
hadiah yang diberikan diatasnamakan perangkum tulisan atau nama
pertama yang ada dalam team tsb.
* Tiap peserta hanya dapat memenangkan satu hadiah.


Persyaratan & Penjurian:

* Peserta diwajibkan melampirkan fotokopi KTP/Kartu
Pelajar/KTM/Kartu Pers.
* Menyertakan no. telepon, alamat tempat tinggal sekarang dan
email di selembar kertas.
* Karya ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
* Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu karya tulis. Karya
tulis merupakan karya asli yang belum pernah diikutsertakan dalam
lomba sejenis/dipublikasikan.
* Khusus untuk kategori Jurnalis, tulisan/artikel yang
diikutsertakan sudah dimuat di media cetak periode 4 - 28 Februari
2008 dan dikirim dalam bentuk asli.
* Penjurian wilayah nasional dilakukan oleh wartawan, akademisi
dan wakil AHM yang ditentukan oleh AHM.
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.


Buat karya tulis yang terpilih menjadi pemenang, kamu bisa memenangkan:

* 1st Winner: Honda Tiger* + Trophy + Sertifikat
* 2nd Winner: Honda Supra* X 125 + Trophy + Sertifikat
* 3rd Winner: Honda Fit X* + Trophy + Sertifikat

* Off the road

Segera kirimkan karya tulismu sebelum 29 Februari 2008 ke PO BOX 2314
Jakarta, 10023 atau bisa juga di-upload lewat www.hondawriting.com!


www.anakaletta.multiply.com
www.kampungcahaya.blogspot.com

Lomba Menulis Cerita Pendek

Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh Persatuan Bangsa”

Deadline:15 Maret 2008
Dalam rangka memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta akan mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh persatuan bangsa”. Lomba terbuka untuk umum dengan syarat/ketentuan sebagai berikut : * Peserta harus melampirkan foto copy KTP/Kartu identitas lainnya. * Bahasa yang digunakan [...]
Deadline:15 Maret 2008
Dalam rangka memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta akan mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh persatuan bangsa”.
Lomba terbuka untuk umum dengan syarat/ketentuan sebagai berikut :
* Peserta harus melampirkan foto copy KTP/Kartu identitas lainnya.
* Bahasa yang digunakan bahasa Indonesia EYD.
* Naskah harus asli bukan terjemahan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan baik melalui media cetak maupun elektronik.
* Setiap peserta paling banyak mengirim 2 (dua) buah naskah.
* Naskah harus diketik dengan menggunakan Microsoft Word di atas kertas HVS ukuran kwarto dengan jarak 2 (dua) spasi, font ukuran 12 (duabelas).
* Panjang naskah 1500–2000 kata dikirim rangkap 3 (tiga) disertai sebuah CD.
* Naskah dikirim melalui Pos ke alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA paling lambat cap pos 15 Maret 2008.
* Alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA : Superblok Megaglodok Kemayoran (MGK), Office Tower B lantai 10, Jl.Angkasa kav.B 6, Kota Baru Bandar Kemayoran. JAKARTA 10610.
* Pada bagian kiri amplop harus ditulis Sayembara Menulis Cerpen INTI 2008.
* Naskah yang tidak memenuhi syarat/ketentuan akan diabaikan.
* Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat.
* Duapuluh Cerpen terbaik akan diterbitkan dengan copy right milik Perhimpunan INTI DKI JAKARTA termasuk hak untuk menyunting judul dan isinya.
* Hasil lomba akan diumumkan dalam suatu acara memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional,Mei 2008 dan akan dipublikasikan melalui Website Perhimpunan INTI, majalah Suara Baru dan Sinergi.
* Hadiah:
1. Juara pertama uang sejumlah 5 (lima) juta rupiah.
2. Juara kedua uang sejumlah 3 (tiga) juta rupiah.
3. Juara ketiga uang sejumlah 2 (dua) juta rupiah.
4. Juara harapan lima orang masing-masing 1 (satu) juta rupiah.
Sumber:http: //mywritingblogs .com/sastra/ 2007/11/20/ info-lomba- cerpen/
http://www.inti. or.id/

beasiswa dari Qatar Charity

Ikhwahfillah ada peluang beasiswa dari Qatar Charity
untuk para ikhwah S1 dan S2 yang masih kuliah.

Diutamakan untuk kampus-kampus seperti
UI, ITB, UGM IPB, UNS, UNJ, ITS, UNAIR, UNESA.
Kampus-kampus diluar itu coba saja dimasukkan.

Disediakan untuk sekitar 200 orang.
Syaratnya berprestasi dan kurang mampu.

Untuk ukuran berprestasi bisa ditunjukkan lewat CV
dan Transkrip nilai. CV lebih bagus jika dalam bahasa Inggris.
Jangan lupa fotonya ya. Sementara untuk ukuran kurang
mampu akan diurus belakangan. Yang penting datanya masuk
saja dulu.

CV beserta foto dan Transkrip nilai semuanya dikirim ke e-mail:
to : mhermawanin@yahoo. com
cc : aping_akhw@yahoo. com
cc : adji_biotek@ yahoo,com

Afwan sebelumnya info ini harus difollow up segera.
Baru saja ana hubungi PIC-nya beliau bilang
Senin ini akan diajukan data-datanya.
So, mohon bisa segera dikirim paling lambat
hari Senin 11 Februari 2008.

Jika antum baru membaca e-mail ini dan
terlambat, coba saja dimasukkan CV-nya.
Mudah-mudahan masih bisa diusahakan.

Mohon bantuannya untuk mendistribusikan
kepada ikhwah lain yang memerlukan info ini.

Demikian infomasinya. Jazakumulloh khoir.

Kamis, 31 Januari 2008

Off The Record

Di Balik Program Rehabilitasi Tempat Usaha Kecil Pascagempa

“mas, itu tuh cuma akal-akalan biar dapet duit. Meskipun gak kena apa-apa, tapi disuruh ikutan. Saya aja dari dulu punya usaha, gak pernah dapet pinjaman. Nah itu yang gak punua usaha, malah dapet pinjaman. Yah mas, kalau mau jujur, itu namanya adzab. Alhamdulillah meskipun kena gempa, warung saya tidak apa-apa. Cuma plafon yang jatuh. Sekarang sudah saya perbaiki dengan uang sendiri, gak pake pinjam kesana-sini.”

Laki-laki itu sudah cukup tua, mungkin sekitar enam puluh tahunan. Dia membaca daftar nama yang saya bawa sambil bercerita panjang lebar. Bapak ini mengkritisi program pinjaman bagi usaha mikro yang sedang berlangsung di desanya. Ada sebuah LSM asing yang bekerja sama dengan koperasi wanita setempat. LSM tersebut menyalurkan pinjaman untuk rehabilitasi tempat usaha yang rusak ataupun roboh karena gempa lalu.

Saya bekerja sebagai Independent Expert yang bertugas mengawasi jalannya pembangunan tempat usaha tersebut. Mulai dari survey lapangan, gambar perancangan, hingga pengawasan pembangunan. Tempat pelaksanaan proyek ini di dua kabupaten, Klaten dan Bantul. Kabupaten ini adalah daerah dengan kerusakan terparah akibat gempa. Dana dari LSM asing ini dikelola dan didistribusikan oleh LSM lokal ataupun koperasi setempat. Dalam term of reference yang saya dapatkan, proyek ini adalah program pemberian pinjaman untuk merehabilitasi tempat usaha mikro. Kalau usahanya dagang, berarti sasaran pinjamannya adalah perbaikan warungnya. Kalau usahanya adalah penyedian makanan, berarti tempat usahanya adalah dapurnya. Dalam istilah asingnya, production facilities.

Dalam pelaksanaan di lapangan, saya menemui banyak kejanggalan. Pertama, dari definisi yang dijabarkan, ternyata menuai perbedaan persepsi. Salah satu LSM mendefinisikan bahwa rumah adalah tempat usaha. Jika pemilik rumah memiliki usaha dagang keliling, maka rumahnya adalah tempat usahanya, karena digunakan untuk menyimpan barang dagangannya.
Kedua, program ini terlihat sangat dipaksakan. Ada sebagian anggota koperasi yang ”dipaksa” untuk memiliki usaha. Padahal dia tidak memiliki usaha sama sekali. Salah satu anggota koperasi yang disurvei oleh rekan saya, menceritakan kenyataannya. Orang ini tidak memiliki usaha. Akan tetapi dari pihak koperasi mengajaknya untuk ikut dalam program ini. Pinjaman yang diajukan maksimal sebesar tujuh juta rupiah. Bunga satu persen plus biaya administrasi satu persen. Relatif kecil jika dibandingkan dengan pinjaman dari tempat lain. Tambah lagi jika pinjaman kurang dari tiga juta, tidak perlu memakai agunan. Awalnya bapak ini tidak mau. Namun pihak koperasi cenderung ”memaksa”. Akhirnya si bapak mengalah kemudian membeli ayam. Ketika ditanya usaha apa yang dikerjakan, dengan berat hati dijawab, ”ternak ayam.”
Ketika monitoring mulai dilaksanakan, saya mengorek keterangan lebih banyak dari para pemohon pinjaman itu. Semakin banyak saya berkeliling, daya semakin yakin bahwa ada yang salah dalam program ini. Cukup banyak dari tempat yang saya datangi tidak menunjukan adanya perbaikan tempat usaha. Malah lebih banyak perbaikan rumah sendiri. Bahkan ada yang ketika ditanya awalnya pinjaman tersebut ditujukan untuk pa, ada yang menjawab, ”ya untuk membangun rumah ini. Ini khan belum selesai...”

Saya mendefinisikan tempat usaha, sebagai tempat yang digunakan untuk menjalankan usaha. Tanpa tempat tersebut, usaha yang dikerjakan tidak akan berjalan. Atau minimal seret. Dengan demkian pinjaman ini adalah kredit produksi. Kredit yang digunakan untuk mendukung kelancaran usaha produksi. Pada kenyataannya, malah pinjaman itu lebih cenderung ke kredit konsumsi. Kredit yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Tidak terkait langsung dengan kegiatan usaha yang dijalani saat ini.

Apakah bermasalah? Jelas bermasalah. Saat kondisi masyarakat sedang terpuruk akibat gempa, adanya dana yang datang sangat menolong. Dana yang awalnya dimaksudkan untuk membantu kelancaran usaha, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Adanya ”pemaksaan usaha”, perbaikan rumah yang tidak terkait dengan usahanya, jelas menjadi bukti nyata. Pinjaman yang seharusnya menjadikan masyarakat bisa lebih produktif, malah cenderung konsumtif.

Untung Rugi
Ada tiga pihak yang terkait pada proyek ini. Pertama, pendonor. Jika dikaitkan dengan untung rugi, pihak pendonor tersbut, pada dasarnya tidak rugi. Mereka hanya memberikan dana, dan berharap agar dana tersebut bisa bermanfaat. Disertai laporan yang jelas. Selama dana tersbut dsmpai pada masyarakat yang membutuhkan, kemudian target proyek itu tercapai, mereka tidak aakn mempermasalahkannya.

Pihak penyalur, dalam hal ini, koperasi dan LSM lokal pun tidak rugi. Dana yang mereka kelola adalah hibah sepenuhnya. Dana hibah ini kemudian disalurkan ke usaha kecil dan mikro dalam bentuk pinjaman. Penyaluran dalam bentuk pinjaman dengan harapan agar masyarakat tidak ”keenakan” jika dana tersbut disalurkan langsung dalam bentuk bantuan. Seperti pinjaman yang lain, ada bunga yang harus dibayarkan. Pihak koperasi dan LSM lokal ini menerapkan bunga sebesar satu persen, dan biaya administrasi satu persen.
Bagaimana dengan pihak penerima? Masyarakat penerima pinjaman tersebut sih senang-senang saja ketika menerima uangnya. Namun untuk mengembalikannya itu yang menjadi masalah. Jika dana terebut memang betul-betul digunakan untuk membangun atau memperbaiki fasilitas usaha mereka, yang berdampak pada kemajuan usaha, tentunya pelunasannya tidak akan jadi masalah. Masalah akan muncul jika usahanya adalah fiktif, ataupun usaha karena ”dipaksa”, ataupun tidak terkait dengan pembangunan fisik. Akibatnya bisa fatal. Ketika pinjaman yang seharusnya diharapkan bisa meningkatkan kapasitas usaha, malah digunakan untuk ”mempercantik diri”. Kredit produktif yang menjadi harapanawal, dalam kenyataan di lapangan berubah menjadi kredit konsumtif. Lebih parahnya lagi, yang mendapat pinjaman adalah masyarakat kecil yang sangat mudah terpengaruh budaya konsumerisme.

Selasa, 22 Januari 2008

Pendaftaran PPSDMS Angkatan IV, 2008-2010

Pendaftaran PPSDMS Angkatan IV, 2008-2010


Program beasiswa PPSDMS NF angkatan IV akan berlangsung Agustus 2008 sampai dengan Juli 2010. Sebagaimana angkatan sebelumnya, peserta yang akan dipilih untuk mengikuti program ini berjumlah 150 orang, dengan rincian sebagai berikut:

  • Regional 1 Jakarta : 30 orang mahasiswa Universitas Indonesia (UI)
  • Regional 2 Bandung : 30 orang mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad)
  • Regional 3 Yogyakarta : 30 orang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • Regional 4 Surabaya : 30 orang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair)
  • Regional 5 Bogor : 30 orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Pelamar yang terpilih menjadi peserta program beasiswa PPSDMS NF angkatan IV akan diasramakan dan berkewajiban mengikuti pembinaan selama dua tahun.

Peserta program akan memperoleh beasiswa senilai

Rp 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah) per bulan

yang meliputi komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Asrama dan fasilitasnya (antara lain: kamar tidur dan perlengkapannya, ruang belajar, perpustakaan, komputer, printer, dll.)
  2. Kurikulum pembinaan yang terdiri dari: berbagai Kajian Keislaman, Dialog Tokoh, Diskusi Pasca Kampus, Training Pengembangan Diri (Kepemimpinan, Manajemen, dll.), Olahraga Beladiri, Training Jurnalistik, dan Training Bahasa Inggris.
  3. Uang saku Rp 300.000 per bulan

Peminat Program Beasiswa PPSDMS NF Angkatan IV harus mengisi Formulir Pendaftaran dengan lengkap secara on-line melalui link berikut selambat-lambatnya tanggal 30 April 2008.

for further information : www.ppsdms.org

Senin, 21 Januari 2008

RAMP HALTE BUS TRANS-JOGJA: UNTUK SIAPA ?

RAMP HALTE BUS TRANS-JOGJA: UNTUK SIAPA ?

Oleh: Fahdi Faaz

Peserta PPSDMS Nurul Fikri

Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Semenjak akan diberlakukannya bus Trans-Jogja, pemerintah langsung melakukan berbagai persiapan. Yang paling terlihat adalah dengan adanya pendirian halte bus. Halte bus inilah yang nantinya diharapkan sebagai satu-satunya tempat bus berhenti untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Harapannya bus Trans-Jogja dapat beroperasi setelah halte bus ini sepenuhnya selesai dibangun.

Memperhatikan desainnya, kita akan teringat pada halte bus untuk busway Trans-Jakarta. Bentuknya ramping memanjang, sejajar dengan jalan. Material yang digunakan adalah logam sebagai rangka pembentuknya dan kaca sebagai bidang penutupnya. Terkesan sangat modern. Namun halte bus trans-Jogja ini memiliki beberapa perbedaan dengan halte bus Trans-Jakarta. Pertama, nuansa lokal Jogja masih dapat kita temui di halte ini. Atap miring yang digunakan di beberapa halte, mengingatkan kita dengan rumah tradisional Jawa yang kita kenal dengan panggang pe.

Kedua, dominasi warna coklat pada material aluminium yang digunakan membuatnya terlihat lebih dekat dengan alam. Berbeda dengan warna abu-abu pada material halte bus Trans-Jogja yang didominiasi warna abu-abu. Ketiga, busway Trans-Jakarta memiliki jalur khusus dan calon penumpang masuk dari arah kanan. Sedangkan bus Trans-Jogja nantinya tidak memiliki jalur khusus dan calon penumpang tetap naik dari arah kiri. Seperti halnya halte bus Trans-Jakarta, lantai halte ini lebih tinggi dari muka jalan, dengan harapan penumpang tidak kesulitan ketika akan memasuki bus. Untuk mencapainya pun disediakan tangga dan ramp.

Nah, perbedaan selanjutnya adalah ramp. Ramp adalah suatu bidang miring yang menghubungkan dua ketinggian yang berbeda dengan sudut kemiringan tertentu (lebih landai dari kemiringan tangga). Ramp yang ada di halte bus Trans-Jakarta sangat landai. Hal ini sesuai dengan standar ramp untuk aktifitas manusia. Kemiringan ramp yang digunakan untuk aktifitas manusia menggunakan perbandingan 1:7. Artinya untuk mencapai ketinggian satu meter, maka jarak mendatar yang dibutuhkan adalah tujuh meter. Sebagai perbandingan, kemiringan ramp yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan misalnya mobil adalah 1:8. Contohnya bisa kita saksikan di gedung parkir ataupun di basement gedung yang digunakan sebagai tempat parkir.

Dari pengamatan yang saya lakukan, ramp di halte bus Trans-Jogja ini sama sekali tidak memenuhi persyaratan tersebut. Hasil pengamatan saya menunjukkan, untuk menuju ke ketinggian lantai halte yang 70-80 cm, jarak mendatarnya hanya 3,1 meter. Ini berarti kemiringannya hanya 1:3. Bahkan ada halte yang kemiringan rampnya sama dengan kemiringan tangga. Idealnya untuk mencapai ketinggian tersebut, jarak mendatar yang dibutuhkan adalah sekitar 4,9-5,6 meter. Kenapa kemiringan ramp ini penting? Sebenarnya untuk siapa ramp itu dibuat? Apakah betul-betul dibuat untuk mereka yang difabel? Atau hanya sekedar formalitas persyaratan perancangan bangunan?

Pada dasarnya, ramp dibuat untuk kemudahan akses bagi kaum difabel. Jika memang diperuntukan bagi kaum difabel maka kemiringan ramp tersebut harus dibenahi karena masih terlalu terjal. Misal suatu saat nanti ada seseorang yang menggunakan kursi roda dan hendak naik bus. Ketika menaiki ramp, ternyata kemiringannya terlalu besar, sehingga orang tersebut tidak dapat menaikinya. Padahal orang tersebut sendirian, dan tidak ada yang dapat menolongnya. Begitu pula jika yang akan menggunakannya adalah seorang kakek renta yang berjalan dibantu tongkat. Tentunya kakek tersebut akan kesulitan untuk menaikinya. Ramp yang seharusnya mempermudah akses malah menjadi penghalang akses. Mumpung belum terlanjur terbangun semua, sebaiknya rancangan ramp ini ditinjau kembali.

Ramp tersebut sebenarnya tidak hanya disediakan bagi para kaum difabel. Semua orang yang normal pun dapat menggunakannya. Jika kita merasa lelah untuk menaiki tangga misalnya. Kemudian ada falisitas ramp yang bisa diakses oleh semua orang. Tentunya kita tidak keberatan untuk menggunakannya. Selama ramp tersebut telah memenuhi persyaratan desain yang standar. Rancangan yang mampu mengakomodasi semua kepentingan seperti ini kerap disebut universal design.

GLobal eXchage...!!!

informsi eXchange


Kami mencari para relawan untuk berpartisipasi dalam program Global Xchange.

Global Xchange adalah program pertukaran pemuda berusia 18-25 dari berbagai negara untuk memberikan kesempatan bekerja sama, mengembangkan dan saling bertukar keterampilan, serta memberikan kontribusi praktis yang diperlukan oleh suatu komunitas tertentu. Selama 6 bulan, peserta akan tinggal dan bekerja berpasangan (satu dari masing-masing negara).

Program Global Xchange ini akan dimulai dari bulan Maret sampai September 2008. Relawan akan tinggal dan bekerja untuk tiga bulan di sebuah komunitas di Inggris (Maret – Juni 2008) dan diteruskan di Indonesia selamatiga bulan (Juni – September 2008).

Simak keterangan program sebelum mengisi formulir pendaftaran.

Pendaftaran akan ditutup pada hari Kamis, 31 January 2008, pukul 16:00 WIB.

Kami menyarankan Anda untuk mengirimkan formulir pendaftaran melalui email ke alamat berikut GX@britishcouncil.or.id .

Anda juga bisa mengirimkan aplikasi melalui post ke British Council (Global Xchange), Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Tower II, Lantai 16, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52 – 53, Jakarta 12190.

Hanya kandidat relawan terpilih yang akan mendapat pemberitahuan resmi dari kami dan pengumuman akan kami muat melalui website ini.

Mereka yang terpilih akan mengikuti Assessment Day pada tanggal 14 – 17 Februari 2008. Tempat akan diberitahukan kemudian.

Kami menawarkan kesempatan yang sama bagi semua orang dan mendorong para pelamar dari semua lapisan masyarakat. Kami menjamin wawancara bagi disabled people yang memenuhi persyaratan untuk posisi ini.

Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut atau telepon +62 21 515 5561.
http://www.britishcouncil.org/id/indonesia-society-global-exchange.htm

”UBIN KUNING” MALIOBORO & KOTABARU

”UBIN KUNING” MALIOBORO & KOTABARU

Oleh: Fahdi Faaz

Pemerhati Arsitektur Kota

Mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

(dimuat di Kompas Yogyakarta Rabu 21 November 2007)

Pernahkah kita memperhatikan pola perkerasan di trotoar sepanjang Malioboro? Dari ujung utara di depan Hotel Inna Garuda hingga ujung selatan, kemudian berbelok ke timur hingga pintu masuk ke Taman Pintar. Akan kita jumpai pada ada perkerasan berukuran duapuluh centimeter kali duapuluh centimeter berwana kuning cerah yang dipasang menerus. ”Ubin” yang dipasang ini memiliki dua macam pola. Yang pertama ubin dengan pola tonjolan berbentuk bulat, dan ubin dengan pola tonjolan berbentuk bulat panjang. Ubin ini bernama guiding blocks.

Selain di Malioboro, guiding blocks seperti ini pun dapat kita jumpai di Kotabaru. Tepatnya berada di trotoar tengah yang menjadi pembatas lajur kiri dan lajur kanan jalan. Guiding blocks ini dipasang sebagai alat bantu bagi kaum difabel, terutama tuna netra, jika sedang berjalan. Kaum difabel adalah golongan orang-orang yang memiliki keterbatasan pada kemampuannya, yang membedakannya dengan orang normal biasa. Dulu kita mengenal istilah penyandang cacat. Namun definisi kaum difabel lebih luas lagi, tidak hanya terbatas pada kaum penyandang cacat. Seorang ibu yang sedang hamil tua, seorang kakek renta pun tergolong kaum difabel.

Bagaimana prinsip kerjanya? Pola bulat panjang menunjukan jalan lurus. Sedangkan pola bulat berarti ada perubahan arah. Baik itu berupa belokan karena di depannya ada halangan, atau berupa percabangan jalan seperti halnya jalan umum.Pemasangan guiding blocks adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap kaum difabel (dahulu disebut dengan penyandang cacat), agar dapat menikmati fasilitas publik yang ada di kota.

Sayangnya, dari dua tempat yang dijadikan pilot project ini, tidak termanfaatkan sebagaimana mestinya. Di Kotabaru, ubin dipasang pada trotoar tengah. Masalahnya, siapa yang akan memakainya? Bahkan yang bukan kaum difabel pun jarang kita temui berjalan di trotoar tengah itu. Ditambah lagi ada lampu taman tepat berada di tengah-tengah jalur tersebut. Lampu ini mengganggu akses pejalan kaki karena harus berputar ke kanan atau ke kiri untuk menghindarinya. Kaum normal pun enggan, apalagi kaum difabel.

Di Malioboro, trotoar yang dipasangi guiding blocks, makin lama tertutup dengan banyaknya pedagang dan kendaraan yang diparkir. Bahkan boleh jadi sebagian besar orang tidak menyadari bahwa jalur kuning tersbut diperuntukkan bagi kaum difabel. Karena memang tidak pernah ada kaum difabel yang datang dan menggunakanya. Kecuali pada waktu-waktu tertentu saja, ketika diadakan simulasi mengenai aksesibilitas. Itu pun sangat jarang dilaksanakan.

Akses bagi kaum difabel di sebuah lingkungan, sesungguhnya tidak hanya berupa jalur ubin kuning tersebut. Tangga masuk ke suatu gedung misalnya. Bagi seseorang yang normal, tidak ada masalah ketika menaiki tangga. Namun berbeda halnya dengan seorang kakek renta yang berjalan menggunakan alat bantu berupa tongkat, misalnya. Untuk tangga, dibuatlah ramp. Ramp adalah sebuah bidang miring dengan kemiringan tertentu (lebih landai dari kemiringan tangga). Ramp memberikan kemudahan akses bagi semua orang khususnya aku difabel ketika hendak memasuki tempat yang letaknya lebih tinggi.

Kemudahan akses seperti ini masih sulit kita jumpai di kota ini. Aksesibilitas merupakan salah satu isu besar demi mewujudkan suatu kota yang humanis.

sepotong kisah dari masa lalu

“Ayo Tong, kita sholat dulu. Mumpung boardingnya masih lama…”, kata teman saya.
“wah mas, tumben ngajakin sholat. Kok kemarin selama di Praha gak pernah kelihatan sholat?”, saya membalasnya.

“yah, ini khan udah kembali ke negri sendiri. Ya sholat lah…”, teman saya balas menimpali.

Percakapan tersebut terjadi di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta empat tahun silam. Ketika itu, saya dan serombongan duta wisata jawa tengah sedang menunggu pesawat menuju semarang. Kami baru kembali dari lawatan ke republik ceko, sebagai utusan misi kebudayaan. Rombongan kami berjumlah sebelas orang. Empat dari kami adalah pegawai dinas pariwisata jawa tengah. Sisanya adalah duta wisata, semacam putri Indonesia, dan pelajar berprestasi.

Selama satu minggu lawatan kami di negeri barat itu, saya merasakan banyak perbedaan. Di negara yang mayoritas pendudukanya adalah nonmuslim, keimanan kami betul-betul diuji. Dari sebelas orang, hanya satu orang yang beragama katholik. Satu hal yang paling terasa adalah ketika masuk waktu sholat. Di Indonesia, kita dapat dengan mudah mengetahui kapan tiba waktu sholat. Posisi Indonesia yang berada di daerah tropis, membuat perbandingan siang dan malam relatif sama sepanjang tahun. Akibatnya, waktu sholat dapat dengan mudah ditentukan. Kami berada di ceko pada awal musim gugur. Memang tidak begitu jauh berbeda dengan yang saya rasakan di Indonesia. Hanya saja waktu fajar dan petang bergeser satu jam. Saat itu matahari terbit pukul tujuh padi, tenggelam pukul tujuh malam. Untuk menentukan waktu sholat, sebenarnya dengan melihat bayangan, kita dapat mengetahuinya. Namun selama sepekan kami di sana, kami merasakan sinar matahari hanya di hari terakhir. Itupun sore hari. Akhirnya saya mengambil keputusan, untuk mementukan waktu sholat, saya menganalogikan dengan waktu sholat di Indonesia. Ditambah sekitar satu jam agar lebih yakin.

Nah, suatu ketika, kami menghabiskan waktu seharian penuh. Kami berjalan-jalan seputar kota tua (Old Town Square) hingga menjelang petang. Saya kebingungan ketika hendak melaksanakan shalat. Di mana saya akan shalat? Ditambah lagi saya tidak tahu arah. Tidak tahu mana arah utara. Cuaca tidak mendukung saat itu. Langit mendung menutupi pancaran sinar matahari. Apalagi saat itu musim gugur. Matahari tidak berada tepat di atas. Alhamdulillah, akhirnya kami mampir di rumah makan Indonesia. Pemilknya berasal dari Kalimantan. Dia sudah tinggal di Praha selama kurang lebih lima tahun. Dilihat dari namanya, pastilah dia seorang muslim. Setelah saya mengonfirmasi kepada tour guide, saya memberanikan diri untuk meminta izin melaksanakan sholat.

Ketika saya mengutarakan maksud saya, dia agak heran. Lebih tepatnya kebingungan. Dia bingung karena tidak ada ruang yang bisa digunakan untuk sholat. Saya merasa lebih bingung lagi ketika saya menanyakan arah kiblat. Dia menjawab dengan ragu, ”sepertinya ke arah sana…”, sembari menunjuk ke satu arah. Akhirnya dengan niat menghadap kiblat lillahi ta’ala, saya menggunakan sebuah bilik kecil. Bilik ini biasanya digunakan untuk jamuan dua orang. Setelah saya selesai sholat, gantian pendamping saya yang melaksanakan sholat. Anggota rombongan kami yang lain tidak bergerak. Kalau yang wanita, saya bisa memahami, mungkin sedang datang tamu bulanannya.

Demikian pula ketika kami melaksanakan kunjungan-kunjungan di hari-hari berikutnya. Keterbatasan waktu dan ketidaktersediannya tempat, membuat saya sholat di kendaraan ataupun setelah sampai di penginapan. Jarang sekali terlihat dari rombongan kami yang melaksanakan sholat. Terutama yang laki-laki. Teman saya pun demikian. Suatu ketika, teman sekamar saya mengatakan, “tong, sebelum tidur sholat dulu…”
“iya mas, ni baru mau sholat. Lha, njenengan kok gak sholat?”, balas saya.
“nah itu, makanya jangan tiru aku…”, jawabnya.

Sampai akhirnya, kami kembali ke Indonesia dan percakapan tersebut terjadi. Tanda tanya besar pada diri saya. Apakah kondisi umat Islam kita seperti ini? Memang tidak bisa dipukul rata. Tepat sekali jika dikatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada tingkat keimanan seseorang. Seperti halnya bulan ramadhan. Pada awal bulan, umat Islam sangat rajin untuk datang ke masjid, melaksanakan shalat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, dan sebagainya. Shaf-shaf selalu penuh. Bahkan sampai memasang atap terpal sebagai tambahan. Alasannya simpel, karena yang lain juga ke masjid. Makin bertambah hari, ada kemajuan. Kemajuan shaf tepatnya. Majelis ilmu mulai sepi.

Meskipun lingkungan berpengaruh, kekuatan ruhani diri kita adalah yang utama. Jika kita sudah memiliki benteng yang kokoh, insyaAllah, gempuran musuh tidak akan mampu menembus pertahanan kita. Semoga tulisan ini dapat membantu menguatkan hati kita, mengingatkan bahwa kita memiliki keleluasaan kesempatan untuk beribadah tidak seperti di belahan bumi lain. Istiqamah dalam beribadah haruslah terus dipertahankan. Persiapan dan bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. Kita tidak akan tahu apa yang akan menanti kita di depan. Manusia hanya dpat berusaha, Allahlah yang menentukan hasilnya. Wallahua’lam.

Kamis, 17 Januari 2008

SAMPAH MINGGU PAGI

Apa yang bisa kita lihat setelah Sunday Morning di UGM? Ataupun setelah perayaan sekaten? Ataupun setelah acara nonton bareng? Ya. Sampah. Ratusan bahkan ribuan sampah bertebaran di semua sudut. Di jalan, tepi jalan, di trotoar, di bangku, bahkan di pot tanaman (mungkin ini tempat favorit). Masalah sampah ini dari dulu sudah menjadi tradisi dan susah dihilangkan. Kebiasaan masyarakat pada umumnya untuk menikmati hibura sambil nyemil makanan tingan memang tidak salah. Namun yang menjadi masalah adalah sampah dari bungkus makanan itu.

Di Boulevard UGM pada Sunday Morning misalnya. Ratusan sampai ribuan orang berkumpul untuk menikmati pasar setengah hari yang dibuka untuk umum. Puluhan pedagang, baik makanan, pernak-pernik, hiasan, pakaian, maupun mainan berjajar mulai dari depan pintu timur gelanggang mahasiswa sampai pintu keluar ke arah lembah di sebelah utara masjid kampus. Suasana yang menyenangkan memang, ketika itu hampir semua orang yang datang, berjalan kaki. Hanya beberapa orang yang nekad menaiki kendaraannya di tengah kerumunan itu. Suasana yang sudah sangat jarang dijumpai di kota ini.

Namun jika waktu mulai beranjak siang, dan pengunjung mulai berkurang, akan kita dapati pemandangan yang menyedihkan. Sampah bertebaran di mana-mana. Baik itu berupa sampah plastik, kertas, bahkan beberapa sisa makanan. Suasana lingkungan kampus yang bersih menjadi kotor. Seperti halnya dengan perayaan sekaten beberapa waktu yang lalu. Di kanan kiri jalan, bahkan di tengah alun-alun pun dijumpai banyak sampah.

Siapa yang harus disalahkan? Pengguna? Jelas. Pemerintah / pengelola? Juga bertanggung jawab. Pengguna dalam hal ini masyarakat yang memiliki andil sangat besar. Kebiasaan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat masih belum menjadi tradisi. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa ketika kita membuang sampah di sembarang tempat, berarti mereka memberi pekerjaan bagi pegawai kebersihan. pendapat ini tidak dapat dibenarkan. Ya kalau sempat dibersihkan. Kalau belum sempat dibersihkan dan tiba-tiba hujan deras mengguyur, sampah-sampah itu terakumulasi di saluran air dan hasilnya, banjir.

Pemerintah maupun pengelola, juga harus ikut bertanggung jawab dalam masalah sampah ini. Bukan hanya dalam mengelola sampah yang sudah ada, tetapi bagaimana cara agar masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat. Di kampanye membuang sampah kering dan sampah basah memang sudah digalakan. Masalahnya, tempat sampah itu malah ditempatkan di tempat dimana orang jarang berlalu lalang ataupun berkumpul. Sedangka di tempat public, dimana orag banyak berkumpul, justru tidak ada tempat sampah.

Di sepanjang boulevard UGM misalnya. Di area sepanjang dan seluas itu, tidak dijumpai ada tempat sampah di pinggir jalan. Walhasil, ketika ada orang yang makan kemudian bingung mencari tempat sampah, dan tidak menemukan temat sampah, boleh jadi sampahnya langsung dibuang di tempat. Berlaku pula di alun-alun, baik utara maupun selatan.

Bagaimana solusinya? Yang pertama kesadaran untuk membuang sampah di tempat sampah harus menjadi tradisi. Tradisi yang baik, yang jika kita melanggarnya, dampaknya dirasakan kita semua. Yang kedua, pemerintah dan pengelola lebih kritis dan tegas. Baik dalam penyedian tempat sampah maupun dalam menangani pelanggar hukum yang membuang sampah sembarangan. Dalam penyediaan tempat sampah, mungkin kita bisa mengambil contoh dari negri seberang. Di halaman St Vitus Cathedral di Praha, merupakan salah satu ruang publik kota Praha. Di lantainya, setiap radius sekian meter, tedapat lubang yang ditutup kisi-kisi besi yang digunakan sebagai tempat sampah. Karena di bawah muka tanah, tempat sampah ini tidak memakan banyak tempat. Tidak seperti tempat samapah konvensional yang diletakan di atas tanah. Mungkin sistem ini cocok untuk masyarakat kita yang masih sering membuang sampah langsung ke bawah.

Dalam penegakan kebiasaan, kita dapat bercermin dari Singapura yang disebut Fine City. Fine diartikan sebagai denda. Bahkan meludah pun jika dilakukan di sembarang tempat bisa kena denda, apalagi buang sampah. Belajar dari pengalaman semasa orde baru juga, ketiak penguasa bertindak sedikit banyak otoriter, namun berdampak cukup baik di beberapa bidang. Seperti China sekarang. Meskipun jumlah penduduknya mencapai dua milyar, namun ketertiban tetap terjaga. Sistem penegakan hukum yang bertangan besi seperti itu barangkali sewaktu-waktu perlu diterapkan di Indonesia. Siapa tahu?

Artikel dimuat di harian KOMPAS Yogyakarta, Rabu 10 Oktober 2007